Dr. H. Serian Wijatno, SE., MM., MH., Tokoh Muslim Tionghoa

Jakarta, innews.co.id – Melalui puasa, Allah SWT ingin manusia dapat mengontrol dirinya, menjalaninya dengan ikhlas dan tulus. Pelaksanaan ibadah puasa pun sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan setiap manusia.

Hikmah puasa di bulan Suci Ramadhan ini disampaikan Dr. H. Serian Wijatno, SE., MM., MH., Tokoh Muslim Tionghoa dalam tayangan videonya di kanal youtube, Selasa (11/5/2021). Menurutnya, ibadah puasa di bulan Ramadhan diwajibkan dengan ketentuan-ketentuan yang tepat, terukur, dan proporsional.

“Yang menjadi persoalan adalah apa substansi dan tujuan dari berpuasa? Ada nilai spiritual apa serta apa dampaknya bagi sendi-sendi kehidupan manusia?” ungkap Serian yang juga dikenal sebagai penulis buku anyar dan Wakil Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini.

Dia mengisahkan, saat bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW melihat seorang wanita menghina budaknya. Lalu, Nabi meminta agar dihidangkan makanan untuk wanita tersebut. Saat Nabi meminta wanita tersebut untuk makan, langsung ditolak dengan alasan dirinya berpuasa. Sontak Nabi Muhammad berujar, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sementara pada saat yang sama engkau menghina sahayamu”.

Berpuasa, lanjut Serian, bukan sekadar menahan lapar dan haus. “Sesungguhnya, Allah telah menjadikan puasa untuk membuka tabir perilaku buruk manusia, baik perkataan, sikap, dan perbuatan,” ujar Serian yang juga aktif sebagai Ketua Lembaga Pendidikan PP Persaudaraan Muslimin Indonesia, Tim Ahli Pinbas MUI, dan Wakil Ketua Umum PITI Pusat.

Puasa tidak mengenal kelas sosial. Kaya dan miskin berlaku sama. Begitu juga, orang yang berpuasa harus dapat mengontrol hawa nafsunya, termasuk syahwatnya.

Tidak sekadar menahan lapar dan haus serta mengekang hawa nafsu semata, lanjut Serian, puasa juga memiliki spirit kepedulian sosial bagi insan beriman secara menyeluruh demi terwujudnya keadilan sosial.

Selain itu, berpuasa juga memiliki nilai kejujuran dan anti-hoaks, fitnah, dan kemunafikan, baik secara pribadi, keluarga, masyarakat, maupun berbangsa dan bernegara. (RN)