Djohari, SH., MSi., - Ketua Pengwil IPPAT Riau

Jakarta, innews.co.id – Mana lebih baik, meminta maaf atau memberi maaf? Atau keduanya berbarengan dilakukan? Pertanyaan klasik ini sering membingungkan, meski bisa disederhana. Tergantung pada niat masing-masing orang tentunya.

“Manusia itu makhluk lemah, penuh khilaf dan salah. Tiada yang tidak pernah bersalah/berdosa. Hanya soal waktu saja. Karenanya, sudah sewajarnya kita saling memaafkan, baik meminta maupun memberi maaf. Jangan merasa pandai, tapi pandailah merasa. Janganlah mudah merasa lebih mulia dari yang lain,” kata Johari penggiat keagamaan yang juga Notaris/PPAT di Riau kepada innews, Kamis (22/4/2021).

Tidak itu saja, lanjut Johari, di Bulan nan penuh pengampunan ini, kita dianjurkan untuk menjaga lidah alias tidak suka berghibab/bergosip. Apalagi membuka aib orang lain, dengan alasan benar sekalipun. “Bergunjing itu ibarat memakan bangkai saudara sendiri. Begitu buruknya tabiat itu. Ngeri tak terperi! Tapi kenapa selalu menjadi trend setter tiap waktu?”

Dia menambahkan, sejatinya potret manusia itu sulit mulia (disatir sebagai ‘pemakan bangkai saudaranya’), dan selalu membuat kerusakan dimuka bumi? Padahal tidak ada cara yang benar untuk melakukan kesalahan.

Dengan bijak, Johari mengajak semua pihak bersyukur karena Allah SWT sendiri pun masih menutup aib kita sesungguhnya. “Kalau Allah SWT membuka aib kita kepada khalayak umum, bisa-bisa kita sendiri pun tak sanggup menanggungnya. Ngeri-ngeri sedap, istilahnya,” tukas mantan Ketua Pengurus Wilayah IPPAT Provinsi Riau ini.

Oleh karenanya, Johari mengajak semua pihak untuk belajar dari kesalahan lalu, ambil iktibar selalu. “Jika orang menasihatimu di depan umum, maka sesungguhnya ia terindikasi menghinamu (membuka aibmu). Tapi jika dilakukan dengan cara yang benar dan santun, hal tersebut tidaklah tergolong buruk,” tegasnya.

Johari berpesan, “Jadilah orang yang memuliakan satu sama lainnya. Sungguh yang demikian itu termasuk perilaku mulia lagi memuliakan. Muliakanlah orang lain dengan cara terpuji, jika kita ingin dimuliakan pula”.

“Semoga Ramadhan kali ini dapat menjadikan kita meraih kemuliaan. Harus selalu diingat, untuk urusan dunia selalu lah pandang kebawah (merasa cukup), sedangkan untuk urusan akhirat selalu pandang keatas (merasa kurang). Semoga kita termasuk orang yang lebih baik. Atau paling tidak, kita tidak lebih buruk dari sebelumnya,” tutupnya. (RN)