Jakarta, innews.co.id – Tenaga kerja masa kini dituntut memiliki keunggulan komperhensif dan berdaya saing tinggi. Diyakini, dengan kompetensi yang mumpuni dan budaya kerja yang positif, tidak hanya meningkatkan kapabilitas pekerja, tapi juga menaikkan performance perusahaan.
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta bersama Pusat Pengembangan Produktivitas Daerah (P3D), Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta, menghadirkan program strategis peningkatan kualitas tenaga kerja melalui Pelatihan Pengukuran Produktivitas Berbasis Kompetensi dan Sertifikasi BNSP 2025, di Jakarta, Senin (25/8/2025).
“Program pelatihan produktivitas ini akan dilaksanakan secara berkala dengan beragam tema. Mulai dari 5S Kaizen, Service Excellence, Green Productivity, hingga PBK Pengukuran, di mana pelatihan ini dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus hingga 9 November 2025,” kata Ketua Umum KADIN DKI Jakarta, Diana Dewi, dalam keterangan persnya, Senin (25/8/2025).
Diana menegaskan, program ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah konkret untuk menjawab tantangan daya saing tenaga kerja Indonesia.

“Produktivitas adalah kunci. Negara-negara maju bisa melesat karena tenaga kerjanya produktif. Sementara, kalau kita lihat Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand. Inilah pekerjaan rumah kita bersama, dan pelatihan ini adalah salah satu jalan untuk mengejar ketertinggalan itu,” ujarnya.
Dijelaskan, hingga kini tercatat hampir 500 peserta dari lebih 200 perusahaan telah mendaftar dan siap berpartisipasi aktif dalam program ini.
“Alhamdulillah, dunia usaha sangat antusias mengikuti program ini,” ungkap Diana Dewi.
Salah satu bentuk pelatihan mengadopsi metode Kaizen 5S dari Jepang yakni, yang terdiri atas Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Di Indonesia disebut dengan 5R yakni, Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.
Filosofi Kaizen atau perbaikan berkelanjutan ini telah terbukti mampu melahirkan perusahaan kelas dunia.
Diana Dewi mengisahkan, di sebuah pabrik otomotif di Jepang, seorang karyawan mengusulkan perubahan kecil yakni, memindahkan alat agar lebih dekat dengan jalurnya. Terlihat sederhana, tapi hasilnya mampu menghemat waktu dan biaya besar.
“Itulah kekuatan produktivitas. Hal kecil, tapi dampaknya luar biasa,” tukasnya.
Dijelaskannya, tujuan akhir dari pelatihan ini adalah menjadikan tenaga kerja Jakarta lebih siap menghadapi persaingan global.
“Kalau Jepang punya Kaizen, Korea punya Palli-palli, maka Jakarta harus punya versinya sendiri: tenaga kerja yang produktif, kreatif, dan adaptif. Itulah fondasi agar Jakarta bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia,” seru CEO Suri Nusantara Jaya ini.
Sementara itu, Kepala P3D Disnakertransener DKI Jakarta Tsani Annafari mengajak seluruh peserta untuk menjadikan pelatihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan titik awal perubahan cara bekerja.
“Mari hadir dengan pikiran terbuka, semangat besar, dan tekad kuat. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari diri kita sendiri,” pungkasnya. (RN)













































