Jakarta, innews.co.id – Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Tidak hanya sekadar menahan hawa nafsu semata, melainkan sebentuk transformasi terhadap hidup.
Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Kemasyarakatan Lintas Agama (BISMA), Dr. John Palinggi, MM., MBA., dengan lugas memaparkan tiga makna krusial dibalik Bulan Suci Ramadhan, yang tahun masuk 1447 Hijriah ini.
Pertama, penyucian jiwa. “Setelah 30 hari menjalankan ibadah puasa dengan penuh kedisiplinan, umat Islam akan kembali kepada keadaan fitrah yang bersih,” ujarnya, hari ini.
Makna kedua, puasa merupakan momentum menata ulang kebiasaan. Mulai dari kebiasaan makan di waktu-waktu biasa, berhenti bicara kasar, berhenti melakukan apa pun yang tidak baik dalam hidup kita selama ini.
Terakhir, puasa menjadi momen tepat untuk memusatkan ingatan hanya kepada Tuhan. “Semua terpusat pada Allah SWT. Berpuasa merupakan hal baik yang diajarkan oleh Tuhan dan bersifat pribadi. Bahkan, tidak ada yang tahu seseorang berpuasa atau tidak selain Allah SWT dan dirinya sendiri,” imbuh pemegang APEC Travel Card di 19 negara di dunia ini.
Konteks sosial
Dalam konteks sosial, Dr. John Palinggi menilai ada makna yang hakiki yakni, terciptanya kesetaraan sosial.
Di luar bulan Ramadhan, dunia seringkali dikotak-kotakkan oleh status: ada orang kaya, ada pejabat, penguasa, dan di sudut lain ada fakir miskin yang papa hidupnya.
“Saat fajar di awal Ramadhan, maka ‘ujian’ yang sama dialami oleh semua orang tanpa memandang status sosial, jabatan, harta, dan lainnya. Semuanya menjadi sama,” ucap Ketua Umum Asosiasi Mediator Indonesia (Amindo) ini.
Kesetaraan sosial terbangun dan kesadaran bahwa semua manusia pada akhirnya akan menghadap Sang Khalik.
Dari realitas kesetaraan tersebut hendaknya memunculkan perasaan bahwa mereka yang mampu harus membantu yang kurang beruntung, tanpa melihat latar belakangnya. Bahkan, mereka yang non-Muslim pun bisa turun tangan membantu saudara-saudaranya untuk berbuka puasa
Dengan kata lain, belas kasih itu telah merubuhkan tembok-tembok agama dan melihat semua makhluk adalah ciptaan Tuhan.
“Ketulusan dan keikhlasan atas dasar kemanusiaan tersebut menjadi pondasi yang baik bagi keutuhan bangsa ini,” tukas pengamat militer dan sosial kemasyarakatan ini.
Dalam Islam, sambungnya, dikenal ajaran habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (hubungan dengan manusia).
Bagi Dr. John Palinggi, Ramadhan merupakan manifestasi dari tiga bentuk persaudaraan yang dalam Islam dikenal dengan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan Ukhuwah Insaniyah/Bashariyah (persaudaraan sesama umat manusia).
Ditambahkannya, agama lain pun memiliki ajaran yang sama dengan itu, seperti di Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.
Baginya, perbedaan teologi atau akidah yang ada bukan untuk saling merendahkan atau saling menghina. “Kalau ada orang-orang yang coba merendahkan agama apapun di negeri kita harus dihentikan. Biarkanlah agama itu suci dan sakral bagi pemeluknya masing-masing,” seru Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (Ardin) ini.
“Kepada semua umat Islam saudaraku di mana pun berada, dengan tulus dari hati yang terdalam, jelang Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah ini, saya menyampaikan, selamat memasuki dan menunaikan ibadah puasa. Bulan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan. Saya atas nama pribadi dan BISMA, memohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya. (RN)















































