Jakarta, innews.co.id – Model bisnis otomatisasi investasi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Terbukti, US Bank, UBS, sampai JPMorgan menutup layanan robo-nya.
“Penutupan layanan robo advisor oleh US Bank, UBS, hingga JPMorgan menunjukkan satu hal yang sebenarnya sudah lama jadi bisik-bisik di industri bahwa model bisnis otomatisasi investasi ternyata tidak semudah yang dibayangkan,” kata praktisi hukum keuangan, Andre Rahadian, SH., LL.M., di Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Salah satu alasan pengakhiran layanan robo adalah margin yang tipis, biaya operasional yang justru tidak serendah ekspektasi, serta tuntutan regulasi membuat banyak bank besar memilih menepi dulu.
“Berkaca pada hal tersebut, bisa disimpulkan bahwa meski saran digital jauh lebih murah daripada input manusia, namun biaya akuisisi pelanggan dan pemeliharaan operasional yang tinggi menghasilkan margin yang sangat tipis,” jelas
Bahkan, Wealthfront, yang memiliki salah satu produk robo tersukses mengakui dalam pengajuan IPO terbarunya bagian terbesar dari keuntungannya, sekitar 75%, berasal dari rekening kas.
Meski demikian, Andre melihat itu bukan berarti akhir dari automated advice. Justru, pasar global menunjukkan fakta lain, di mana adopsi teknologi investasi terus tumbuh dan pemain independen seperti Betterment atau Wealthfront tetap mencatat pertumbuhan aset.
“Itu artinya, teknologi masih punya ruang besar. Hanya saja modelnya perlu lebih matang, bukan sekadar ikut tren saja,” ujarnya.
Baginya, langkah mundur beberapa bank besar ini menjadi momentum untuk merancang ulang layanan yang lebih relevan yakni, hybrid advisory yang menggabungkan sentuhan manusia dengan efisiensi Al. Karena pada akhirnya, investor tetap butuh dua hal yang sulit digantikan: kepercayaan dan konteks. (RN)












































