Rumah Sakit Apung Doctor Share Karam, Haruskah Pelayanan Kemanusiaan Terhenti?

Rumah sakit apung Lie Darmawan terbakar dan karam di perairan antara NTT dan NTB, Rabu (16/6/2021)

Jakarta, innews.co.id – Rumah Sakit Apung milik Yayasan Dokter Peduli (Doctor Share) yang digagas oleh dr. Lie Agustinus Dharmawan, mengalami musibah ditengah laut, saat menempuh perjalanan dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu, 16 Juni 2021.

Menurut keterangan dr. Lie, saat berada ditengah laut, awak kapal melihat percikan api dari salah satu ruang mesin yang diperkirakan akibat korsleting. Kru kapal berusaha memadamkan, namun api menjalar begitu cepat dan tidak dapat dikendalikan. Dalam tempo singkat, rumah sakit apung yang telah melayani ribuan warga, khususnya di pedalaman Indonesia itu dilalap si jago merah.

Layanan operasi yang dilakukan di atas kapal rumah sakit apung dr. Lie Darmawan

Melihat kondisi kapal dalam keadaan terbakar, para awak yang kebanyakan merupakan paramedis menyelamatkan diri dengan menggunakan sekoci dan pelampung darurat. Ada juga yang memilih menceburkan diri kelaut. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut. Ironis, kapal dengan misi kemanusiaan tersebut harus karam, tenggelam ke dasar laut. Seluruh peralatan medis tak bisa diselamatkan. Kerugian ditaksir mencapai milyaran rupiah.

Kepada innews, Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) mengatakan, dirinya sangat terpukul ketika mendapat kabar terbakarnya rumah sakit apung tersebut. “Saya sangat sedih mengingat kapal itu telah didedikasikan untuk membantu pelayanan kesehatan rakyat Indonesia, terutama yang berada di pelosok dan daerah terpencil,” kata Putri, Kamis (17/6/2021).

Putri Simorangkir Ketua Umum Damai Nusantaraku (Dantara) ajak semua pihak menaruh empati terhadap tragedi yang menimpa dr. Lie Darmawan dan timnya, Rabu (16/6/2021)

Dirinya menambahkan, pelayanan dr. Lie dengan rumah sakit apungnya sudah bertahun-tahun dijalankan. Tiada lelah dr. Lie keluar masuk pelosok Nusantara untuk memberi pelayanan kepada masyarakat secara cuma-cuma. “Ini merupakan bentuk dedikasi dari seorang dr. Lie dan timnya kepada Indonesia,” kata Putri yang juga Ketua Bidang Sosial Budaya Baskara ini lagi.

Berbagai layanan kesehatan bisa dilakukan di kapal rumah sakit apung dr. Lie Darmawan

Menurutnya, rumah sakit apung itu sudah menjadi milik Indonesia, milik kita semua. Karenanya, Putri menggugah semua pihak, termasuk pemerintah untuk berempati dan mencarikan solusi agar pelayanan kemanusiaan dr. Lie dan timnya tidak berhenti. “Sejatinya, pelayanan kemanusiaan itu jangan berhenti. Sebab, masih banyak rakyat Indonesia yang membutuhkan layanan kesehatan. Mereka yang tinggal di pelosok, pesisir, dan daerah terpencil pasti merindukan kehadiran rumah sakit apung ini,” ujar Putri.

Berbagai macam pelayanan kesehatan dapat dilakukan di kapal ini, baik pemeriksaan kesehatan hingga operasi minor hingga mayor. “Ini merupakan rumah sakit apung pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Tim paramedis yang bekerja secara volunteer mengabdikan hidupnya bagi banyak orang,” urainya.

dr. Lie Darmawan (jaket biru) bersama tim Dantara saat mengunjungi rumah sakit apung

Putri mengajak semua pihak untuk bisa membantu agar kapal yang telah karam itu bisa diganti. Begitu juga peralatan medis yang sudah tenggelam di dasar laut. “Pelayanan dr. Lie adalah bentuk kepedulian dan hati tulus untuk membantu rakyat Indonesia. Kita harusnya bangga dengan keberadaan rumah sakit apung tersebut. Karena itu, kita juga harus terpanggil untuk bersama-sama mensupport pelayanan ini agar bisa berjalan kembali,” tukas Putri. (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan