Otty Hari Chandra Ubayani, SH., Sp.N., MH., Notaris/PPAT senior di Ibu Kota

Jakarta, innews.co.id – Sejatinya, semua Pengurus Wilayah (Pengwil) Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) yang menjalankan mandat putusan PN Jakbar dan PT DKI serta Kesepakatan Perdamaian, harus fokus dalam melaksanakan Kongres Lanjutan atau Kongres Luar Biasa (KLB) yang akan diadakan di Lombok, NTB, selambatnya 28 Februari 2021 ini. Jangan lagi ada cuitan-cuitan di media sosial yang cenderung provokatif atau mempersoalkan hal-hal lain. Semua harus bersama mengakhiri ‘drama’ konflik IPPAT yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun ini.

Penegasan ini secara lantang diserukan Otty Hari Chandra Ubayani, SH., Sp.N., MH., Notaris/PPAT senior di Ibu Kota yang juga menjadi salah satu Caketum pada Kongres VII IPPAT di Makassar, 2018 silam, kepada innews, Senin (18/1/2021).

Seruan perdamaian IPPAT

Otty mengapresiasi upaya para Ketua Pengwil yang telah melakukan pembahasan melalui zoom meeting. Hanya saja, mengingat waktunya semakin dekat, ia berharap pembicaraan akan dilakukan semakin intens lagi.

“Jangan ada trik-trik yang berujung pada kecurangan, agar perdamaian di IPPAT bisa paripurna. Apalagi sampai ada upaya membatalkan Kongres Lanjutan. Semua harus on the track dan sevisi bahwa IPPAT harus bersatu kembali,” serunya.

Dirinya berharap KLB bisa berjalan damai. Apalagi bisa dilakukan pemilihan secara aklamasi, tentu akan sangat menghemat waktu mengingat saat ini negara kita masih dibayangi pandemi Covid-19 yang belum mereda. “Yang penting, gerbong IPPAT bisa terselamatkan. Tidak terus-menerus berada dalam kubangan masalah,” ujarnya.

Bak di Senayan, di internal IPPAT pun sejujurnya ada ‘fraksi-fraksi’. Bagi Otty, itu hal biasa. Namun, orientasi perjuangannya semua harus bagi kepentingan ‘rakyat’ (baca: para PPAT). “Jadi, nanti siapapun yang akan terpilih sebagai Ketum PP IPPAT, harus merangkul semua ‘fraksi’, bukan kelompoknya saja yang masuk dalam ‘kabinet’. Dengan begitu, persatuan akan tetap terjaga,” imbuh Otty.

Dirinya yakin, dengan IPPAT yang satu dan solid, maka perjuangan PPAT ditengah modernisasi dan kemajuan teknologi akan bisa ditopang dengan baik. “Misal, bagaimana kedepan IPPAT bisa berada di garda terdepan bila anggotanya ada yang tersangkut masalah. Juga bagaimana perkumpulan ini bisa memperjuangkan profesi PPAT dalam sebuah regulasi (UU), dan sebagainya,” paparnya.

Disinggung soal anggaran untuk Kongres Lanjutan, Otty berkeyakinan tidak terlalu masalah. Sebab, ada dana-dana perkumpulan yang bisa digunakan, sehingga diharapkan tidak terlalu membebani peserta nantinya. Belum lagi, di masa pandemi ini, tentu sebaiknya yang datang perwakilan dari masing-masing Pengwil.

Otty juga mengingatkan nantinya anggota Presidium dapat bekerja dengan baik sehingga KLB berjalan lancar dan tidak deadlock. “Kalau sampai deadlock, yang rugi ya IPPAT juga. Selain itu, kita juga punya tanggung jawab kepada Kementerian ATR/BPN selaku Pembina PPAT yang telah berjuang menginisiasi perdamaian IPPAT,” ujar Otty mengingatkan.

Karenanya, sambung Otty, jangan lagi ada manuver-manuver yang mau mengacak-acak Kongres Lanjutan nanti. “Kalau ada yang begitu, berarti dia provokator yang mau mengacak-acak organisasi. Gak perlu diikuti. Banyak PPAT sebenarnya sudah tahu ‘aktor-aktor’ yang suka bikin kericuhan, baik di IPPAT maupun INI,” tegas Otty lagi. (RN)