Jakarta, innews.co.id – Selama ini lebih banyak diterapkan model linear pada suatu produk yakni, ambil, pakai, dan buang. Saatnya beralih ke ekonomi sirkular untuk mendukung keberlanjutan.
“Ekonomi sirkular adalah model pembangunan ekonomi yang bertujuan meminimalkan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya,” kata Ketua Umum Forum Corporate Social Responsibility (CSR) DKI Jakarta, Aldi Imam Wibowo, di Jakarta, hari ini.
Dijelaskan, konsep ini menjaga produk, bahan, dan komponen tetap berputar dalam siklus ekonomi selama mungkin melalui penggunaan kembali, perbaikan, peremajaan, dan daur ulang.

Ini berbeda dengan model linear yakni, ambil, pakai, buang, yang mengakibatkan sumber daya cepat habis dan sampah menumpuk dimana-mana.
“Ekonomi sirkular mengajak kita untuk pakai lebih lama, guna ulang, dan daur ulang. Jadi, bukan buang, tapi manfaatkan,” terangnya.
Forum CSR DKI juga menilai, ekonomi sirkular merupakan sistem yang menjaga produk dan bahan tetap digunakan selama mungkin. Bukan berakhir di tempat sampah, melainkan bisa dipakai kembali dalam siklus baru.
“Prinsip utamanya, mengurangi limbah sejak awal, desain produk agar tahan lama, daur ulang, gunakan kembali, fokusnya bukan buang, tapi manfaatkan,” bebernya.
Dicontohkan, botol plastik jadi bahan baku baru, sisa makanan jadi kompos, limbah pertanian jadi pupuk organik, barang yang rusak langsung diperbaiki, bukan langsung dibuang.
“Ekonomi sirkular bukan sekadar tren, melainkan cara cerdas mengelola masa depan secara berkelanjutan,” tukasnya. (RN)















































