Jakarta, innews.co.id – Dampak konflik di Timur Tengah kian terasa di republik ini. Terjun bebasnya indeks PMI Manufaktur Indonesia sampai ke level 50,1 pada Maret 2026, menjadi sinyal kuatnya.
“Kita semua prihatin terhadap apa yang terjadi di Timur Tengah. Bahkan, terasa sampai ke Indonesia,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Diana Dewi, di Jakarta, Kamis (3/4/2026).
Untuk itu, pengusaha sukses ini mengusulkan sejumlah hal penting antara lain, melakukan stabilisasi biaya produksi dan energi. Misal dengan memberikan keringanan atau subsidi energi (listrik dan bahan bakar) secara terarah bagi industri padat karya dan eksportir.
Juga melakukan pengendalian harga bahan baku. Kalau perlu melakukan intervensi jika terjadi lonjakan harga ekstrem.
Demikian juga pemerintah bisa melakukan diversifikasi jalur logistik dengan mencari rute pengiriman alternatif yang aman dari gangguan konflik Timur Tengah untuk menjamin pasokan bahan baku dan pengiriman ekspor. Dan, memberi jaminan pasokan energi dengan mengamankan stok minyak dan gas bumi dalam negeri untuk memastikan operasional pabrik tidak terhenti.
Tak kalah penting, pemerintah perlu menerapkan kebijakan proteksi dengan memberlakukan kembali kebijakan pembatasan atau Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP/Safeguard) untuk melindungi produk lokal dari gempuran barang impor murah yang berpotensi masuk saat pasar global melambat. Serta melakukan relaksasi impor produk jadi.
Hal lain yang mungkin diterapkan yakni, pemberikan insentif fiskal dan pembiayaan fasilitas pajak (tax holiday/allowance). Bisa juga dalam bentuk penundaan pembayaran pajak bagi perusahaan manufaktur yang terdampak serius untuk menjaga arus kas (cash flow).
“Pemerintah juga bisa mengambil langkah memberi kemudahan akses permodalan,” usul Founder Toko Daging Nusantara ini.
Selain itu, pemerintah bisa melakukan penguatan pasar domestik melalui optimalisasi Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).
Harus dilihat bahwa konflik di Timur Tengah juga memicu risiko kenaikan harga energi global dan mengganggu rantai pasok, sehingga fokus utamanya adalah menjaga biaya operasional industri agar tetap kompetitif.
“Kami di KADIN DKI Jakarta mendukung langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah sehingga industri manufaktur tidak lebih terjerembab lagi,” tegas Diana Dewi. (RN)











































