Muhammad Ismak Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) AAI

Jakarta, innews.co.id – Lahirnya Peradi membuat banyak organisasi advokat (OA) terfokus kesana. Pun saat Peradi terbelah-belah, banyak OA ikut tergerogoti, tak terkecuali Asosiasi Advokat Indonesia (AAI).

“Banyak pengurus yang rangkap jabatan, selain di AAI, juga di Peradi. Itu membuatnya kurang fokus membesarkan AAI. Namun, itu tidak bisa dikatakan mati suri,” kata Muhammad Ismak Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) AAI kepada innews, Sabtu (17/4/2021).

Ismak menepis adanya tudingan banyak cabang AAI mati suri. “Saya tidak memungkiri belum semua cabang bangkit di era saya. Tapi bukan berarti mati suri pada kepemimpinan saya. Sebab, itu sudah sejak lama terjadi, tetapi saat ini belum semua siuman karena berbagai faktor,” jelas Ismak.

Ismak dan tim gelar acara ngabuburit

Dia mencontohkan, cabang yang dulu mati suri seperti Medan, kini sudah berlari, Jakarta Pusat juga demikian, Jakarta Selatan yang dulu hanya nama, sekarang menggeliat. Sementara itu, ada pengurus AAI yang mendua, seperti di Lampung, Surabaya, Malang. Menurutnya, itu perlu pendekatan yang berbeda.

“Diperlukan kerja keras menghidupkan semua cabang-cabang karena sejak lahirnya Peradi semua advokat berfokus kesana. Kemudian Peradi pecah, maka ada pecahan Peradi itu memperebutkan cabang AAI. Di era saya, lahir banyak cabang baru. Bahkan Senin, 19 April 2021, saya akan melantik 4 cabang baru di Sulawesi Selatan,” akunya.

“Semua permasalahan dialamatkan pada kepengurusan saya, tetapi tidak membandingkan AAI dengan OA lain atau flash back ke belakang,” tuturnya.

Ismak menambahkan, banyak hal positif telah dilakukan bersama rekan-rekan pengurus lainnya di periode pertama kepemimpinannya. “Hingga kini, AAI selamat tidak pecah. Pun tidak menempel ke pecahan-pecahan OA lain. Hal lainnya, mulai ada pendidikan dan lahirnya anggota atau generasi baru,” paparnya lugas.

Wenda, Ismak, dan Ranto Simanjuntak

Ismak menilai, saat ini yang dibutuhkan adalah kebersamaan, melihat masalah secara menyeluruh dan mengulurkan tangan bersama-sama untuk memecahkan masalah. “Hanya yang merasa bersalah bisa menyelami masalah, sedangkan bagi yang merasa benar sendiri tidak akan pernah bisa memahami masalah, apalagi menyelesaikannya,” imbuhnya.

Pada Munas AAI, Juni 2021 nanti, Ismak memutuskan untuk kembali maju sebagai Calon Ketua Umum, didampingi Ranto Parulian Simanjuntak (Calon Waketum) dan Wenda Aluwi (Calon Sekjend).

Ditanya soal itu, Ismak mengatakan, “Saya ingin memastikan kemandirian ini berlanjut. Saya ingin lebih mengakselerasikan penyelesaian masalah. Selama AAI tidak kuat, maka suaranya hanya sayup-sayup. Selama anggotanya hanya bisa teriak, maka hanya akan jadi bahan tertawaan OA lain,” tandasnya.

Dipilihnya Ranto dan Wenda, kata Ismak, merupakan orang yang tepat. “Ranto punya komitmen turun ke lapangan, sementara Wenda dikenal energik. Saatnya perempuan turun tangan di AAI,” tukasnya.

Paket Ismak, Ranto, dan Wenda yang disingkat IRW ini mengusung tema sentral ‘United to Revive’. “Kami ingin menghimpun kembali kekuatan-kekuatan AAI, yang menjadi dasar dari organisasi ini yakni, persaudaraan dan kemesraan. Dan, memastikan regenerasi bebas konflik untuk kejayaan AAI,” pungkasnya. (RN)