Otty Ubayani Paparkan Esensi Berorganisasi, Ini Dia

Otty Hari Chandra Ubayani, terus berorganisasi dan memberi manfaat bagi banyak orang

Jakarta, innews.co.id – Aktif berorganisasi seolah sudah menjadi denyut nadi dan darah yang mengalir dalam tubuhnya. Dirinya tak bisa dipisahkan dari organisasi. Baginya, berorganisasi adalah bagian dari pengabdian, selain memperkuat silahturahmi sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Sosok Otty Hari Chandra Ubayani dikenal sebagai aktifis yang telah malang melintang di sejumlah organusasi. Berbagai jabatan strategis, mulai dari pucuk pimpinan hingga anggota telah ia lakoni. Semua membuatnya mampu memahami esensi berorganisasi.

“Bagi saya, sebuah organisasi itu harus memberi manfaat bagi anggotanya. Mampu melindungi seluruh anggotanya dan menjadi rumah bersama, bukan hanya sekelompok orang saja. Dengan kata lain, seorang pemimpin dalam organisasi tidak boleh menciptakan kubu-kubuan, tapi harus bisa menerima semua anggotanya dengan tangan terbuka,” ujar Otty Ubayani, di Jakarta, Selasa (21/5/2024).

Otty Ubayani dalam acara halal bihalal Pawon Semar, di Cibubur, Jakarta Timur

Bahkan seorang pemimpin dalam organisasi harus bisa merangkul semua anggotanya. Jangan sampai ada yang ketinggalan kereta.

“Sebagai pemimpin harus bisa menolong anggotanya. Prinsip hidup saya, kalau tidak bisa menolong 100 orang, usahakan bisa membantu 10 orang. Tidak bisa 10 orang, cukup bantu 1 orang. Juga tidak bisa 1 orang, minimal jangan menyakiti orang lain,” imbuh Ketua Umum Ikatan Alumni Kenotariatan Universitas Diponegoro (IKANOT Undip) ini.

Diakuinya, semakin tinggi pohon semakin kencang juga anginnya. “Organisasi yang semakin dikenal oleh publik, maka tantangannya pun pasti semakin besar. Disitulah peran besar seorang pimpinan organisasi akan diuji,” seru Notaris/PPAT senior di bilangan Jakarta Selatan ini.

Otty Ubayani, aktif berorganisasi demi pengabdian

Menurutnya, ada hal-hal yang harus dengan tegas dinyatakan, tapi ada juga yang bisa dikesampingkan. “Biasanya kalau organisasi sudah semakin besar, banyak orang luar yang sirik sampai melontarkan kata-kata atau isu yang tidak semestinya. Kita harus bijak menyikapinya dan tidak perlu harus terbawa emosi. Bahkan terkadang anggota kita yang jadi emosi. Sebagai pemimpin harus bisa meredam emosi anggotanya,” tukas Otty.

Memang tidak mudah menukangi organisasi. Dibutuhkan kerelaan dan pengorbanan yang tidak kecil, mulai dari waktu, tenaga, pikiran, sampai dana. Namun, bagi Otty, itu adalah konsekuensi untuk memberi kemanfaatan bagi semua anggota dan masyarakat luas.

“Berorganisasi sudah menjadi bagian hidup saya. Tentunya akan saya jalani. Justru saya tidak akan merasa nyaman berorganisasi bila ada anggota yang merasa ditinggal, apalagi dizholimi. Semua pihak harus bersama menciptakan keguyuban dan kesolidan, baru organisasi akan tumbuh dan berkembang dengan baik,” pungkasnya. (RN)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan