Dr. H. Serian Wijatno, SE., MM., MH., tokoh Muslim Tionghoa dalam video yang beredar, Jum'at (19/3/2021)

Jakarta, innews.co.id – Ada hikmah di balik pandemi Covid-19 yang melanda dunia ini. Keteraturan alam yang berubah jadi polutif, kini disegarkan kembali. Manusia seolah diperintahkan untuk diam, bergantian dengan alam.

Hal ini dikatakan Dr. H. Serian Wijatno, SE., MM., MH., tokoh Muslim Tionghoa dalam video yang beredar, Jum’at (19/3/2021). “Saat ini banyak manusia berpandangan dalam hidup ini hanya dibutuhkan materi sebanyak-banyaknya. Dunia hanya terdiri dari hal-hal yang konkrit dan bisa diindera. Ini adalah pandangan dunia materialisme yang hanya mementingkan kebendaan semata,” ujar pria yang pernah menjadi atlet nasional bulutangkis nasional ini.

Pandangan dunia materialisme secara praktis menolak eksistensi dan peran Tuhan, karena Tuhan tidak dapat diindera secara empiris dan material. Pandangan seperti ini hanya menganggap kehidupan hanya sebatas di dunia saja dan menganggap kesudahan hidup di dunia hanya karena di makan usia, “wa maa yuhlikunaa illad dahr”, dan tidak ada kehidupan lagi setelahnya.

Menurut Serian, pandangan seperti salah besar. “Ada pandangan dunia lain yang jauh diatas konsep materialisme yaitu, ke-Tuhanan. “Pandangan ini yang membawa kita pada kebahagiaan abadi setelah kematian,” ujarnya seraya mengutip Al Qur’an Surat Al-Jasiyah ayat 24 yang menuliskan, Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

Lebih jauh Serian yang juga duduk sebagai Bendahara PB-PBSI selama 20 tahun ini mengatakan, pandangan dunia ke-Tuhanan meyakini bahwa hakikat segala realitas meliputi alam semesta, manusia, dan Tuhan adalah sesuatu yang non-materi (metafisik). Law of nature adalah bukti empiris bahwa keberadaan makhluk ada yang mengatur.

“Keterbatasan memahami Tuhan pasti ada, namun jangan menjadi alasan untuk tidak menerima bukti keberadaan Tuhan lewat gugusan alam semesta yang secara sistemik tersusun rapih sesuai, selaras, dan sejalan pada poros dan waktu yang Dia ciptakan,” urai Serian yang pernah menjadi Dirut Adira Finance ini.

Serian yang pernah dipercaya sebagai Ketua Pengurus Yayasan Tarumanagara selama 18 tahun ini menambahkan, dalam diri manusia terdapat misteri yang sangat mendalam dan luas. “Jika saja kita mau menggunakan akal dan daya nalar untuk bisa meraih hal-hal yang tersimpan tersebut sehingga menjadi keyakinan kuat dan tidak terbantahkan lagi dalam wujud pandangan dunia,” tukas Serian yang kini aktif di Yayasan Group APL ini.

Mantan Direktur Utama RS Royal Taruma ini menguraikan makna yang tertuang dalam Surat Al-Ikhlas Ayat 1 sampai 4. “Perbedaan prinsip antara pandangan dunia Ilahi dengan dunia materialisme terletak pada ada atau tidaknya keimanan manusia kepada Tuhan pencipta alam ini,” imbuh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) Dewan Masjid Indonesia Pusat dan sejumlah organisasi lain, seperti Parmusi, MUI, dan PITI ini.

Pandangan dunia ke-Tuhanan, sambung Serian, memberikan kemudahan kepada manusia untuk memahami keberadaan-Nya dengan bukti-bukti nyata segala ciptaan-Nya.

Bagi penulis buku bestseller yang juga pernah menjadi Komisaris di beberapa perusahaan ini, Covid-19 merupakan bukti nyata bahwa ada ‘sutradara’ canggih yang mengatur dunia ini.

“Covid-19 menjadi bukti betapa kuasanya Tuhan. Jika manusia telah memiliki pandangan dunia ke-Tuhanan, maka dunia materi hanya dipandang sebagai sarana menuju Tuhan,” pungkasnya. (RN)