“Gak penting kucing hitam atau kucing putih. Yang penting bisa tangkap tikus”
Deng Xiaoping
Bapak China Modern
(1904 – 1997)
Jakarta, innews.co.id – Banyak orang memperbincangkan kabinet yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto. Namun ternyata bagi Dr. John Palinggi , intinya sederhana saja. Menyitir ucapan Deng Xiaoping, “Gak penting kucing putih atau kucing hitam. Yang penting bisa tangkap tikus”.
Pengamat militer dan intelijen ini menerangkan, “Istilah tersebut memiliki arti bahwa tidak perlu kita melihat kekurangan bahkan aib orang lain, tapi siapapun yang bisa menselaraskan pikiran, hati, dan tenaganya untuk mendukung program Bapak Presiden, itulah kucing yang bisa tangkap tikus”.
John juga ungkap apa yang dikatakan Presiden China Zhu Rongji, “Saya ingin negara ini bebas dari korupsi. Saya tidak ingin ada orang yang mencuri uang negara dari korupsi. Tolong siapkan 99 peti mati untuk koruptor. saya akan masukkan mereka dalam peti mati. Tapi jangan lupa siapkan juga satu peti mati untuk saya kalau kalian tahu saya korupsi”.
Dengan lugas Ketua Harian BISMA (Badan Interaksi Sosial Masyarakat) ini mengatakan, salah satu pondasi Pak Prabowo sekaligus peringatan, termasuk kepada para calon menteri adalah jangan coba-coba mencuri uang negara melalui APBN. “Saya sangat mengapresiasi ucapan Pak Prabowo ini. Bahkan, bila diminta, katakan untuk ikut serta menjadi ranting pemberantasan korupsi, saya siap. Niat baik Pak Prabowo pasti akan ditolong Tuhan,” tukasnya.
John mengingatkan para menteri untuk meninggalkan kebiasaan lama yang lebih setia pada partai atau kelompoknya, dibandingkan kepada presiden. “Para menteri sudah menandatangani pakta integritas, bahkan disumpah untuk setia pada presiden, bangsa dan negara. Sudah tidak ada urusan dengan partai. Jangan jadi menteri lantas menggarong uang negara, begitu ketahuan korupsi lantas melobi Ketum partainya untuk meminta agar Presiden tidak memecatnya. Tidak ada urusan lagi ketika seseorang berlatarbelakang parpol sudah menjadi menteri,” tegasnya.
Harus jujur, loyal, berintegritas serta sungguh-sungguh menjalankan tugas yang diberikan dengan tulus dan ikhlas. “Saya mengenal Pak Prabowo. Beliau tidak pandang bulu ketika mendapati ketidakbenaran. Tetapi, kalau dalam hal kebenaran, beliau sangat rendah hati. Kemampuan beliau dalam mengendalikan sesuatu tidak diragukan lagi,” yakinnya.
Memaafkan
Ikut dilibatkannya beberapa orang yang sejatinya pada Pilpres lalu menghina bahkan mencaci maki Prabowo, menurut John, itu menunjukkan karakter kuat dari Presiden terpilih untuk selalu memaafkan dan tidak terlalu terganggu dengan segala bentuk hinaan yang diterimanya saat kontestasi lalu.
“Pak Prabowo sosok pemaaf dan tidak terlalu peduli dengan hal-hal cacian kepadanya. Yang ada adalah dirinya merangkul mereka-mereka agar menjadi potensi dalam kebersamaan dengan pola konsultatif sehingga bergabung dalam kapal besar pemerintahannya,” urai John.
Dirinya yakin, Prabowo telah mengakomodir orang-orang sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Tentu nanti akan ada evaluasi. “Pakta integritas memiliki konsekuensi bahwa ada tugas, tanggung jawab, dan wewenang. Pada saat tugas dan tanggung jawabnya tidak jalan, artinya melanggar pakta integritas. Kalau nanti pembantu presiden korupsi, melanggar pakta integritas,” tandasnya. (RN)













































