Jakarta, innews.co.id – Pernyataan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa pada acara syukuran pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Mimika, Senin (17/3/2025), yang meminta budaya bakar batu dihentikan menuai kecaman dan berbagai pihak, terkhusus orang asli Papua (OAP).
Di depan ribuan massa Meki menyatakan, “Bakar batu menghabiskan uang yang cukup banyak. Uang yang kita bisa pakai untuk orang sekolah, kesehatan, bangun rumah. Uang habis hanya satu hari untuk bakar batu. Kita stop bakar batu, tapi bagaimana kita gotong royong supaya pendidikan gratis, pelayanan kesehatan bisa jalan maksimal”.
“Bakar batu adalah tradisi budaya masyarakat Papua, yang berupa ritual memasak bersama-sama. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan nenek moyang, tetapi juga menjadi bagian dari budaya yang bisa mendukung pariwisata,” kata tokoh muda OAP Yance Mote, dalam keterangan persnya yang diterima innews, Kamis (27/3/2025).

Yance tegas mengatakan, “Gubernur itu harus menjadi garda terdepan penjaga budaya, bukan malah mau menghilangkan”.
Dia menguraikan, tradisi bakar batu umumnya dilakukan oleh Suku Dani di pedalaman Papua. Pada Suku Lani, tradisi ini disebut lago lakwi. Sementara di Wamena, tradisi ini disebut kit oba isago. Di Paniai disebut mogo gapil. Dan, di masyarakat Papua pantai, tradisi ini disebut barapen.
“Tradisi ini merupakan bentuk ucapan syukur kepada Tuhan. Juga bentuk silahturahmi dengan keluarga dan kerabat karena biasanya di acara bakar batu semua keluarga dan handai taulan hadir,” jelasnya.
Selain itu, bakar batu merupakan tradisi untuk menyambut kabar bahagia. Dulunya, tradisi bakar batu digunakan untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang dan pesta setelah perang. Tradisi ini juga merupakan media perdamaian antar-kelompok yang berperang.
“Dari sisi budaya, bakar batu memadukan seni pertunjukan dengan elemen lecture performance,” lanjut Yance.
Karena itu, kata Yance, statement Gubernur Papua Tengah yang mau meniadakan tradisi bakar batu sangat tidak tepat dan ceroboh. “Saya khawatir ini bisa menyulut kemarahan orang asli Papua karena sama saja menghilangkan tradisi turun temurun dari nenek moyang orang Papua,” tukasnya.
Dalam pidatonya, Meki juga meminta untuk stop pesta pora. “Saya berharap kedepan pesta-pesta pora kita hentikan. Budaya yang bagus kita jaga, budaya yang menguras uang dan tenaga kita tinggalkan karena dunia ini semakin maju kedepan,” ujar Meki.
Mengenai hal ini, Yance beranggapan pernyataan tersebut sumir dan tidak jelas. “Apa yang dimaksud dengan pesta pora? Apakah dengan mengadakan acara budaya lantas bisa dikategorikan sebagai pesta pora?” tanyanya.
Menurutnya, Gubernur Papua Tengah harus menjelaskan rinci pesta pora bagaimana yang dimaksud dan harus dihentikan itu. “Harus diberi klarifikasi. Karena sebagai anak adat jangan menghilangkan identitas budaya makan bersama sebagai wujud kerukunan dan persaudaraan,” serunya.
Bagi Yance, harusnya sebagai pemimpin daerah bisa menjaga tradisi dan kebudayaan yang ada, bukan sebaliknya. “Sekali lagi saya tegaskan, gubernur atau pemimpin daerah tidak boleh menghilangkan kultur budaya dan tradisi orang koteka. Saya menolak hal tersebut,” pungkasnya. (RN)













































