Jakarta, innews.co.id – Rencana kedatangan Laurence Douglas Fink yang akrab disapa Larry Fink, CEO BlackRock–sebuah perusahaan manajemen investasi multinasional Amerika dan terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$10 triliun bersama dan pemimpin bisnis AS, mendapat apresiasi dari pengusaha nasional Diana Dewi yang juga Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta.
“Kami menyambut baik rencana kedatangan CEO BlackRock Larry Fink dan pemimpin bisnis AS lainnya ke Jakarta. Ini menjadi momentum penting untuk berdiskusi dan sharing knowledge dari negara maju kepada negara berkembang, seperti Indonesia,” kata Diana Dewi, di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Apalagi, Jakarta memang diproyeksikan masuk jajaran Kota Global yang kompetitif. Melalui kunjungan tersebut diharapkan dalam melahirkan pemikiran dan inisiatif dalam mendukung Jakarta Kota Global.
Dirinya juga berharap lembaga-lembaga seperti BlackRock dan lainnya dapat ikut menyuarakan kepentingan global, terutama negara-negara yang terdampak.
“Kondisi konflik dan perseteruan antar-negara bukan saja tidak menguntungkan bagi mereka, tapi juga berdampak negatif terhadap negara-negara lain. Perlu ada dialog, baik dengan Pemimpin di AS, maupun negara-negara lainnya yang berkonflik, seperti Rusia, Ukraina, dan lainnya,” jelasnya.
Dijelaskan, tantangan pengembangan ekonomi terbesar dunia saat ini adalah kombinasi antara perlambatan pertumbuhan global, ketidakpastian geopolitik yang memicu konflik dagang, inflasi tinggi, serta dampak perubahan iklim.
Tantangan lain yang dihadapi adalah melemahnya daya beli masyarakat, transformasi digital yang mempengaruhi ketenagakerjaan, dan perubahan demografis.
Dicontohkan, ketegangan AS-China, dan retaknya kerja sama multilateral, seperti NATO, memberi dampak signifikan terhadap perekonomian global. Fenomena ini menciptakan fragmentasi ekonomi di mana dunia terbagi ke dalam blok-blok dagang yang terpisah. Belum lagi pengenaan tarif resiprokal oleh Pemerintah AS kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Karenanya, lembaga dunia, seperti PBB perlu bersuara lantang untuk meredakan konflik antar-negara. Saat ini, invasi ekonomi semakin nyata dan terang-terangan.
Begitu juga aliansi lintas negara dan gerakan-gerakan antar-negara harus turun tangan untuk meredam konflik yang memiliki dampak besar bagi dunia internasional. (RN)











































