Jakarta, innews.co.id – Menulis feature tidak semudah yang dibayangkan. Namun, menjadi asyik ketika kita memahami filosofi dibaliknya. Hal tersebut yang coba dideskripsikan jurnalis senior sekaligus penulis buku kondang Emanuel Dapa Loka (EDL) melalui buku terbarunya bertajuk “Menulis Feature Memikat – Merekam Denyut Nadi Manusia”.
“Menulis feature bukan sekadar keterampilan teknis. Feature merupakan cara memandang manusia dan kehidupan secara lebih utuh. Feature harus berangkat dari manusia dan bermuara pada manusia,” kata EDL dalam siaran persnya, Rabu (30/9/2026).
Dia menegaskan, buku yang ditulisnya tersebut ingin mengajak para penulis melihat manusia sebagai pusat dari karya jurnalistik.
“Setiap karya harus memiliki makna bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Dan, manusia yang memiliki karya itu harus memiliki kesadaran tersebut,” ujarnya.
Penulis biografi dan alumnus Universitas Mercu Buana Jakarta itu menjelaskan, buku tersebut lahir dari dua hal yang tampaknya sederhana, tetapi menentukan perjalanan seorang penulis: rasa kagum dan kegelisahan.
Ia mengaku kagum pada tulisan-tulisan feature yang mengalir jernih, memikat pembaca tanpa terasa menggurui, sekaligus mampu menyentuh kesadaran melalui fakta-fakta yang kuat.
Akan tetapi, kekaguman itu kemudian melahirkan kegelisahan. “Saya gelisah karena tulisan semacam itu tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan kepekaan, ketekunan, dan kesediaan untuk menyelami kehidupan lebih dalam daripada sekadar permukaan peristiwa,” imbuhnya.
Bagi EDL, feature berbeda dari cerpen. Cerpen bertumpu pada imajinasi, sedangkan feature berpijak pada kenyataan. Tantangannya justru terletak pada bagaimana fakta-fakta itu dihadirkan sehingga menjadi hidup, bernapas, dan menggugah para pembaca.
Karenanya, feature kerap disebut sebagai jurnalisme yang bercerita. Ia bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membawa pembaca masuk ke dalam pengalaman manusia yang nyata.
Di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, sambungnya, feature memiliki ruang yang semakin penting. Berita datang silih berganti dalam hitungan detik. Orang dibiasakan untuk segera tahu, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan untuk benar-benar memahami.
Feature, lanjutnya, menghadirkan jeda. Ia mengajak pembaca memperlambat langkah, melihat proses, merasakan denyut kehidupan, kemudian menemukan makna di balik sebuah peristiwa.
Atas dasar itulah, buku ‘Menulis Feature Memikat’ tidak disusun sebagai buku yang menjejali pembaca dengan teori-teori panjang tentang jurnalistik. Buku ini lebih dimaksudkan sebagai teman belajar dan berlatih.
Kemampuan menulis feature, kata dia, tidak tumbuh secara instan. Para penulis seperti Gunawan Mohammad, Rosihan Anwar, dan Sindhunata pun lahir melalui perjalanan panjang: membaca, mengamati, mendengar, merasakan, lalu terus menulis.
Kemudian kembali membaca, mengamati, mendengar, merasakan, dan menulis lagi. “Karena itu, buku ini lebih memilih menjadi teman latihan daripada sekadar buku ajar,” tukasnya.
Melalui buku tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana sebuah feature dirancang, dibangun, dan dihidupkan. Tujuannya bukan hanya menghasilkan tulisan yang enak dibaca, tetapi juga tulisan yang mampu menggerakkan—membangkitkan empati, kesadaran, bahkan tindakan.
“Semoga buku ini menjadi langkah kecil yang berguna bagi siapa pun yang ingin belajar menulis dengan hati, dengan kedalaman, dan dengan keberpihakan pada yang kecil, lemah, dan tak berdaya. Di sinilah, jurnalisme harus berpihak,” harapnya.
Launching buku dan Rumah Sumba
Peluncuran buku yang bakal memikat umat tersebut dilakukan di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026). Keriuhan tari tradisional Sumba dengan irama musik dan entakan kaki para penari begitu menghidupkan suasana.
Launching buku tersebut bersamaan dengan peluncuran Program Pembangunan Rumah Besar Sumba (RBS) di Jakarta. RBS digagas oleh masyarakat asal Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang kini tersebar di Jabodetabek dan Bandung. Mereka berinisiatif membangun sebuah rumah bersama sebagai ruang untuk berkumpul, mempertemukan pikiran dan gagasan, mengembangkan diri, serta memberi kontribusi bagi Sumba dan Indonesia.
Gagasan tentang rumah dalam konteks Sumba tidak sekadar menunjuk pada sebuah bangunan, melainkan ruang perjumpaan, tempat orang berkumpul, membawa kabar, membicarakan persoalan, menimbang kata, dan mengambil keputusan untuk kehidupan bersama.
Karena itu, Rumah Besar Sumba di Jakarta diharapkan menjadi ruang perjumpaan intelektual dan kebudayaan bagi masyarakat Sumba di perantauan. (RN)










































