Jakarta, innews.co.id – Banjir yang melanda Jakarta di awal Juli 2025 ini cukup memilukan. Lebih dari 100 rukun tetangga (RT) terendam banjir dan lebih dari 1.000 warga harus mengungsi. Hal tersebut tentu mengakibatkan kerugian ekonomi.
“Tentu saja banjir mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Banjir mengakibatkan roda perekonomian melambat. Namun sejauh ini belum bisa dihitung secara jelas berapa kerugian ekonomi yang ditimbulkan pada peristiwa banjir di Jakarta pada Juli 2025 ini,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Diana Dewi, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Jumat (11/7/2025).

Diana Dewi menguraikan bahwa banjir tidak hanya melanda Jakarta, tapi juga sejumlah negara di dunia, seperti China, Amerika Serikat dan lainnya.
Kabarnya, ketidakpastian iklim menjadi penyebab terjadinya banjir, di mana suhu permukaan bumi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dalam laporan Climate Risk Index 2025, yang dirilis oleh World Meteorological Organization (WMO), tercatat bahwa dalam 3 dekade terakhir, dunia telah mengalami lebih dari 9.400 peristiwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, dengan total kerugian ekonomi mencapai US$ 4,2 triliun atau sekitar Rp 68.943 triliun.
Menyikapi kondisi demikian, Founder Toko Daging Nusantara ini mengatakan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani masalah banjir antara lain:
- Mengoptimalkan pompa air, sehingga bisa berfungsi tanpa menunggu permukaan air laut surut.
- Penanganan banjir rob dengan membangun infrastruktur yang dapat mengurangi dampak kenaikan permukaan air laut, seperti tanggul laut dan sistem drainase yang lebih baik.
- Pemprov DKI perlu membangun infrastruktur yang tahan banjir dan berkelanjutan.
- Perlu melakukan pengelolaan sungai dan kanal yang lebih baik untuk mengurangi risiko banjir, seperti pengerukan sungai dan kanal, serta pembangunan bendungan dan pintu air.
- Meningkatkan kerja sama dengan masyarakat dan organisasi masyarakat sipil untuk meningkatkan kesadaran membuang sampah tidak sembarangan dan partisipasi masyarakat dalam penanganan banjir.
Tak hanya itu, Diana Dewi juga mengajak warga Jakarta untuk disiplin dalam membuang sampah. “Jangan sembarangan membuang sampah, khususnya ke aliran air karena akan terjadi penyumbatan karena penumpukan sampah,” serunya.
Baginya, penangangan banjir harus dilakukan secara simultan oleh semua pihak, tidak hanya pemerintah saja. (RN)











































