Jakarta, innews.co.id – Ketidakstabilan ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini mendorong banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya, banyak keluarga terdampak. Di sisi lain, life must go on.
“PHK bukan sekadar angka statistik. Dibalik hal tersebut ada keluarga yang terdampak, pun ada pengusaha yang terpaksa membuat keputusan berat,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta Diana Dewi, di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, tekanan biaya produksi yang terus naik, ditambah ketidakpastian global, membuat ruang gerak dunia usaha semakin terbatas.
Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah membangun kolaborasi. “Pengusaha tidak bisa berjalan sendiri, pemerintah pun tidak. Kita perlu langkah yang terkoordinasi, bukan reaktif, tapi antisipatif,” ujar CEO Suri Nusantara Jaya Group ini.
Diana Dewi menambahkan, ditengah tekananel ekonomi yang paling penting adalah tidak bergerak sendiri-sendiri. “Pengusaha, pekerja, dan pemerintah harus duduk semeja untuk mencari jalan keluar bersama, bukan saling tunggu,” imbuhnya.
Langkah strategis
Founder Toko Daging Nusantara ini memberikan beberapa hal yang bisa menjadi perhatian bersama guna meminimalisir terjadinya PHK, antara lain:
- Memperkuat UMKM sebagai penopang ekonomi yang paling dekat dengan masyarakat.
- Jaga stabilitas harga bahan pokok, karena inflasi yang tidak terkendali langsung memukul daya beli.
- Buka ruang kolaborasi antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah, bukan saling menekan, tapi saling memahami.
“Ditengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, masih ada harapan untuk melakukan pembenahan, melalui kolaborasi,” pungkasnya. (RN)













































