Jakarta, innews.co.id – Pendidikan merupakan pintu masuk menuju keberhasilan. Hal tersebut juga yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini sejak awal.
“Semangat untuk memperjuangkan akses pendidikan dan pengetahuan bagi seluruh rakyat ini adalah esensi dari perjuangan Kartini,” kata advokat senior R. Riri Purbasari Dewi, SH., LL.M., MBA., saat bicara tentang Hari Kartini 2026, hari ini.
Dulu, pendidikan masih terbatas bagi orang asing dan kalangan ningrat saja. Rakyat jelata tak diberi akses, apalagi kaum perempuan yang kerap distigmakan sebagai konco wingking (teman di belakang).
Namun, dengan kegigihannya, Kartini mampu merubah paradigma dan membawa kaum perempuan sanggup merubah nasibnya. Stigma konco wingking pun perlahan bergeser.

Segala daya upaya dikerahkan oleh Kartini, salah satunya dengan memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan gender. Lewat bukunya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, orang disadarkan bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
Bak bola salju, isu kesetaraan gender terus mewarnai ruang publik. Kini, hasilnya mulai nampak.
“Pembukaan UU 1945 tegas menyatakan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
Artinya, pendidikan menjadi entry point untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.
Dunia advokat
Praktisi hukum yang pernah menjadi peragawati ini menilai, saat ini banyak kaum perempuan yang terjun ke dunia hukum, baik jadi advokat, jaksa, hakim maupun polisi.
“Di dunia advokat harus diakui masih didominasi kaum pria. Namun, setidaknya untuk coporate lawyer di berbagai korporasi sudah banyak bercokol kaum perempuan,” ujar Ketua Bidang Publikasi, Hubungan Masyarakat, dan Protokoler DPN Peradi ini bangga.
Menurutnya, perempuan menjadi advokat memiliki nilai lebih. Salah satunya bisa lebih teliti dan telaten dalam mengurai persoalan hukum.
“Itu tentu membantu klien untuk mendapat pendampingan hukum lebih maksimal,” imbuhnya.
Pastinya, sambung Riri, para pencari keadilan akan selalu mengutamakan jalan keluar terbaik bagi permasalahannya. “Mereka akan mencari advokat yang bisa mencari dan memahami inti masalah. Kemudian mencari strategi dan taktik terbaik untuk memecahkan masalah tersebut,” urainya.
Banyak advokat perempuan yang memiliki kemampuan penalaran yang sangat baik serta jam terbang yang mumpuni.
Di dalam Peradi sendiri, Riri melihat peluang terbuka lebar bagi keterlibatan kaum perempuan. “Alhamdulillah, Ketua Umum DPN Peradi Prof Otto Hasibuan sangat terbuka, bahkan mendukung advokat perempuan untuk berkiprah dan selalu memberi ruang seluas-luasnya,” aku Riri.
Teladani Kartini
Peraih dua gelar Master dari universitas terkemuka di Australia ini meminta kaum perempuan–khususnya generasi muda, untuk meneladani semangat perjuangan Kartini.
“Apa yang dilakukan Kartini masih relevan di masa kini. Jangan pernah berhenti belajar dan terbuka serta adaptif dengan hal-hal baru,” tukasnya.
Hari Kartini merupakan momentum menilai kembali perjuangan yang kita lakukan. Tidak hanya secara pribadi, tapi juga untuk membantu sesama perempuan untuk maju bersama. (RN)












































