Jakarta, innews.co.id – Saat ini, kesempatan bagi perempuan untuk eksis dimana-mana sangat mudah dan diterima. Sayangnya, kesempatan ini tidak dijadikan satu goals yang luar biasa oleh perempuan itu sendiri.
Pandangan kritis ini disampaikan oleh Poppy Puspitasari Hayono Isman, sosialita peduli perempuan dan aktifis di berbagai kegiatan sosial ini, menyikapi Hari Kartini 2026, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Poppy menilai, saat ini sudah tidak relevan lagi kita membaca satu situasi, khususnya pada perempuan secara geografi daerah atau kota. Ini lantaran media sosial sudah menjangkau sampai ke pelosok sehingga tidak semestinya mereka terbelakang.
Namun kenyataannya survei menunjukkan bahwa memang masih banyak perempuan yang kurang pendidikannya karena memang tidak bersekolah dan tidak belajar dirumah.
“Miris saya melihatnya. Seolah itu menjadi pilihan perempuan itu sendiri. Padahal ruang belajar semakin banyak di era digital,” kata istri mantan Menteri Menteri Pemuda dan Olahraga RI Hayono Isman ini.
Di sisi lain, banyak kaum perempuan justru memanfaatkan medsos bukan untuk belajar, tetapi untuk modernisasi dan bergaya. Kalau sudah bisa ber-tiktok ria atau chatting, itu sudah cukup. “Itu banyak terjadi di semua level usia perempuan,” imbuh sosok yang dikenal sebagai desainer perhiasan ini.
Poppy menegaskan, kesempatan terbuka lebar bagi kaum perempuan untuk maju. Namun, justru itu tidak bisa dimaksimalkan.
Kondisi demikian kian diperparah dengan masih maraknya kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan juga menimpa ke anak-anak.
Pasangan muda
Dirinya mendorong pemerintah untuk segera membuat aturan konkrit terkait kesehatan yang diperlukan oleh pasangan muda yang akan menikah. Salah satu tujuannya agar pasangan tersebut benar-benar memahami dan mampu mempersiapkan diri seideal mungkin. Harapannya tentu bisa melahirkan generasi emas.
“Sepasang pengantin memiliki perjalanan yang cukup panjang. Namun, dengan adanya regulasi disertai bimbingan, setidaknya mereka memahami langkah-langkahnya, utamanya bagaimana menjaga kesehatan, terutama dari penyakit akibat gaya hidup,” ujarnya.
Dengan lugas, Poppy mengajak kaum perempuan untuk membangun pola pikir lintas generasi. Tetap mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menghargai warisan dari para leluhur.
“Di era serba cepat ini perempuan harus dapat memegang peranan bagi dirinya dan sekelilingnya. Yang mana sekolah bisa berhenti, tetapi proses belajar harus terus berlanjut. Dengan terus memperlengkapi diri, kaum perempuan akan dapat beradaptasi dengan segala situasi,” pungkasnya. (RN)












































