Jakarta, innews.co.id – Kiprahnya di dunia internasional semata untuk memperjuangkan kaum perempuan agar tidak saja mendapat kesempatan yang lebih luas lagi, tapi juga memperoleh kesetaraan gender seutuhnya.
Sosok Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., Presiden Business and Professional Women (BPW) Indonesia–afiliasi dari BPW Internasional, memberi nilai tambah guna mendorong kemajuan perempuan, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia.
Memimpin BPW Indonesia merupakan prestasi tersendiri yang dimiliki Giwo Rubianto. Sejak dulu, dirinya dikenal eksis memperjuangkan nasib kaum perempuan. Mulai dari KPAI, Kowani, Pita Putih, GWS, hingga BPW Indonesia. Tak heran, sederet penghargaan pun diperolehnya.
BPW Indonesia
Bicara soal BPW Indonesia, Giwo Rubianto dengan lugas menjelaskan, BPW Indonesia terus aktif dalam berbagai upaya pemberdayaan perempuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Salah satunya melalui partisipasi BPW Indonesia dalam BPW Asia Pacific Representation pada UN CSW70 di New York, Amerika Serikat, Maret 2026 lalu.

“Partisipasi ini memberikan dampak penting dalam memperluas jejaring internasional, memperkuat posisi dan suara perempuan Indonesia di forum global, serta membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan,” kata Giwo Rubianto, pada peringatan Hari Kartini 2026, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Di tingkat nasional, BPW Indonesia juga telah menyelenggarakan pelatihan “HerTech: Perempuan Berdaya AI”, kolaborasi dengan ICT Watch, yang bertujuan meningkatkan literasi digital serta pemahaman kecerdasan buatan bagi perempuan Indonesia.
Selain itu, melalui kerja sama dengan Siloam International Hospitals dalam program “Selangkah” (Semangat Lawan Kanker), BPW Indonesia turut mendorong kesadaran kesehatan perempuan, khususnya melalui skrining mamografi dan USG payudara, yang hingga saat ini telah diikuti oleh 606 peserta.

“Ke depan, BPW Indonesia akan terus memperluas perannya melalui partisipasi dalam BPW Asia Pacific Symposium 2026 di Phuket pada Agustus mendatang, serta berbagai kolaborasi strategis lainnya dalam rangka memperkuat pemberdayaan perempuan di berbagai sektor,” jelas Giwo.
Pembenahan
Lebih jauh Giwo Rubianto menyampaikan tiga hal utama yang perlu dibenahi untuk memperkuat eksistensi kaum perempuan.
Pertama, memperluas kepemimpinan perempuan. “Perempuan harus diberi ruang lebih besar dalam posisi pengambil keputusan, baik di parlemen, pemerintahan, maupun dunia usaha,” serunya.
Saat ini, keterwakilan perempuan di DPR RI periode 2024–2029 baru sekitar 21,9%, masih di bawah target 30%. Artinya, ruang kepemimpinan perempuan masih perlu diperkuat.

Kedua, memperkuat kemandirian ekonomi perempuan. Perempuan harus mendapat akses yang sama terhadap pekerjaan layak, penghasilan adil, permodalan, serta pelatihan usaha. Khususnya bagi pelaku UMKM perempuan, dukungan modal dan pendampingan sangat penting agar mereka mandiri, berdaya saing, dan tidak bergantung pada pihak lain.
Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan. Di era digital, perempuan harus dibekali pendidikan tinggi, literasi teknologi, dan kemampuan kewirausahaan agar mampu bersaing dan memimpin perubahan zaman.
“Jika tiga hal ini dibenahi, maka eksistensi perempuan akan semakin nyata, bukan hanya sebagai pelengkap pembangunan, tetapi sebagai kekuatan utama kemajuan bangsa,” tukasnya.
Karenanya, di Hari Kartini ini, ia mengajak seluruh komponen bangsa untuk lebih memberikan perhatian terhadap kaum perempuan sehingga keberadaan dapat mendukung perjuangan menuju Indonesia Emas 2045.
“Kaum perempuan adalah elemen penting yang akan ikut membawa negara ini masuk era Indonesia Emas,” pungkasnya. (RN)












































