Jakarta, innews.co.id – Kemajuan pesat kaum perempuan dari waktu ke waktu menjadi sesuatu yang harus disyukuri pada peringatan Hari Kartini 2026 ini.
Apa yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini kian menampakkan hasil. Hanya pada bagian lain, masih saja marak terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), khususnya terhadap perempuan, yang menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Faktanya, masih ada ketimpangan terkait akses pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT,” kata Presiden Business and Professional Women (BPW) Indonesia Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Giwo Rubianto memaparkan data tahun 2025 menunjukkan bahwa masalah KDRT masih sangat serius.
Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat 10.240 laporan kasus KDRT hingga awal September 2025 di Indonesia. Sementara Komnas Perempuan juga mencatat kekerasan dalam ranah personal, termasuk terhadap istri, masih menjadi kasus yang dominan.
“Itu artinya, perjuangan belum selesai. Kemajuan perempuan tidak boleh hanya dirasakan di kota besar atau kelompok tertentu saja, tetapi harus menjangkau hingga ke akar rumput,” ujar Ketua Umum Kowani dua periode (2014-2024) ini.
Dirinya mengajak keluarga, negara, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menciptakan ruang aman, adil, dan setara bagi perempuan.
Generasi emas
Lebih jauh penggiat perempuan sekaligus Ketua Umum Pita Putih Indonesia (PPI) ini menggarisbawahi bahwa perempuan, khususnya ibu, memegang peran sentral dalam membentuk kualitas generasi masa depan.

“Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak, tempat di mana nilai, karakter, dan kepribadian dibentuk sejak dini. Karena itu, pemerintah perlu memastikan perempuan mendapatkan dukungan yang nyata sejak sebelum menikah, masa kehamilan, hingga mendidik anak,” seru mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, termasuk pemenuhan gizi, pencegahan stunting, serta akses kesehatan yang merata.
Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan perempuan karena ibu yang terdidik akan melahirkan generasi yang lebih unggul.
Ketiga, memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan agar keluarga lebih sejahtera dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang baik.
Mengutip ucapan Brigham Young, “If you educate a man, you educate an individual. But if you educate a woman, you educate a nation”. Karena ketika perempuan maju, maka keluarga, masyarakat, dan bangsa ikut maju.
Lintas generasi
Wanita cantik kelahiran Bandung, 8 Mei ini mengajak seluruh perempuan lintas generasi untuk saling merangkul dan saling menguatkan.

“Perempuan senior hendaknya menjadi mentor, teladan, dan pembuka jalan bagi generasi muda. Sebaliknya, generasi muda membawa inovasi, energi, dan gagasan baru untuk menjawab tantangan zaman,” tuturnya.
Dirinya mendorong terjadinya kolaborasi lintas generasi. “Teruslah belajar, tingkatkan kapasitas diri, jaga integritas, dan percaya pada kemampuan sendiri,” pintanya.
Giwo Rubianto meyakini, jika perempuan lintas generasi berjalan bersama, maka kesinambungan kemajuan akan terjaga dan perempuan Indonesia akan semakin berperan besar dalam membangun bangsa.
(RN)












































