Jakarta, innews.co.id – Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (Kwarnas GP) bersama Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI), Kadin Indonesia, dan stakeholder lainnya, melakukan panen raya kedelai, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Diatas lahan seluas 5 hektar, dipanen kedelai yang ditanam sejak Januari 2026 lalu, dengan hasil dua ton per hektarnya.
“Panen raya kedelai ini merupakan bentuk dukungan terhadap program Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, yang salah satunya adalah menciptakan swasembada pangan,” kata Mayjen TNI (Purn) Dr. Bachtiar, S.IP., M.AP., Sekretaris Jenderal Kwarnas GP, dalam siaran persnya, hari ini.

Dikatakannya, Gerakan Pramuka bersama Kementerian Pertanian, Kadin, dan HKTI, coba membangun kekuatan pangan. “Negara yang kuat harus memiliki kedaulatan pangan. Ini harus jadi prinsip kita bersama,” seru Ketua HKTI ini.
Saat ini, kedelai masih impor. Salah satu penyebabnya adalah kekurangan benih. Karenanya, kita mendorong pembibitan sebanyak mungkin untuk selanjutnya ditanam oleh para petani. “Kita mulai demplot (demonstration plot) di Buperta dan beberapa tempat lainnya. Hasilnya, satu batang bisa menghasilkan 40-60 polong. Artinya, perhektar bisa menghasilkan minimal 2-3 ton,” jelasnya.
Pihaknya bersama Kadin Indonesia juga telah menanam di Lebak, Banten, diatas tanah seluas 200 hektar dan Yogyakarta (150 hektare).
Dirinya juga menegaskan, Gerakan Pramuka akan mengerahkan anggotanya se-Indonesia yang berjumlah 25 juta orang, melalui pelatihan untuk dapat bercocok tanam. “Bumi Perkemahan Pramuka yang ada se-Indonesia akan diarahkan untuk menanam berbagai macam jenis pangan, seperti jagung, kedelai, padi, sayur mayur, buah-buahan, dan bunga,” tuturnya.
Diingatkan, jangan sampai terjadi lost generation farmer. Orang muda harus dikenalkan, dilatih, dan dibina untuk menjadi petani yang handal.
Juga dikembangkan Integrated Global Farming yakni, pertanian terpadu yang mencakup pertanian, peternakan, dan perikanan. Untuk peternakan akan dikembangkan sapi, kambing, ayam, dan domba. Sementara perikanan, difokuskan pada ikan nila dan lele.
Bachtiar menegaskan, pihaknya juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani melalui pemakaian lahan gratis, lemberian pupuk cuma-cuma, pendampingan, dan hasilnya juga diberikan kepada petani. “Kami juga melatih generasi muda untuk gemar bertani melalui pendidikan dan pelatihan,” tukasnya.
Ketua Kelompok Petani Pinggir Buperta (KPPB) Maman Amrustam mengaminkan bahwa pihaknya diizinkan memakai lahan gratis, diberi pupuk, pendamping, bahkan sudah ada tempat penjualannya. Program ini sangat membantu para petani.
Kualitas lebih baik
Bachtiar menegaskan, kedelai yang ditanam memiliki kualitas jauh lebih baik daripada barang impor. “Kalau kedelai impor dari Amerika Serikat adalah produk GMO (Genetically Modified Organism atau Rekayasa Genetika), di mana semakin lama kualitasnya akan turun.
Dari sisi penyerapan hasil petani, Bachtiar menegaskan, kita akan berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan pihak lainnya, untuk memungkinkan membeli dengan hasil panen dengan harga tinggi.
Dirinya juga mengusulkan untuk melakukan diversifikasi. Jadi, kedelai tidak hanya digunakan untuk tempe dan tahu, tapi bisa diolah menjadi susu, misalnya, sehingga nilai jualnya lebih tinggi.
Direktur Aneka Kacang dan Umbi (AKABI) Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Dyah Susilokarti mengatakan, pihaknya sudah bekerja sama dengan berbagai pihak. Namun, pihaknya menekankan pentingnya kualitas tanaman pertanian. “Kalau mau dapat harga jual tinggi, maka kualitasnya harus lebih baik,” ucapnya.
“Kami ingin membangun tanaman pertanian diatas lahan 37.500 hektar. Namun, benihnya belum banyak tersedia. Karenanya, kami akan terus kembangkan,” tambahnya.
Dyah menargetkan, 2029 Indonesia bisa swasembada kedelai. “Kita harus optimis bisa tercapai. Masalah pangan ini harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan pemerintah saja,” lanjut Bachtiar.
Di sisi lain, Andi Yuslim Patawari Wakil Ketua Umum Koordinator Pangan Kadin Indonesia menegaskan, pihaknya mendukung penuh aksi penanaman berbagai produk pertanian sehingga tercapai kedaulatan pangan. Salah satunya melakukan penanaman kedelai di atas lahan 25 hektare dari 200 hektare yang disiapkan.
“Harapan kami, pemerintah bisa mengintervensi, khususnya soal harga, agar kita bisa kembali mencapai swasembada kedelai,” pungkasnya. (RN)








































