Jakarta, innews.co.id – Turunnya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2025, menunjukkan daya beli masyarakat yang masih lemah.
“Masih terkontraksinya PMI manufaktur Indonesia, salah satunya diakibatkan masih melemahnya daya beli masyarakat. Masyarakat cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok yang harga bahan-bahannya mengalami kenaikan,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Seperti diketahui, PMI manufatur di September 2025 berada di angka 50,4. Cukup baik dibandingkan Juni 2025 lalu yakni, di angka 46,9.
Menurut Diana, lemahnya daya beli masyarakat membuat pabrik mengurangi jumlah produksi berkelanjutan. Bahkan mungkin terpaksa menyetop produksi sejumlah item sambil menunggu stok di gudang berkurang. Penumpukan barang yang terlalu banyak juga tentu kurang baik bagi stabilitas perusahaan.
Penyebab lainnya adalah naiknya inflasi di September 2025 menjadi 2,65%, dibanding Agustus 2025 sebesar 2,31%. Inflasi di September 2025 merupakan yang tertinggi sejak Mei 2024 lalu.
Faktor selanjutnya adalah penurunan permintaan ekspor. Bisa jadi sebagai dampak penerapan tarif resiprokal yang diberlakukan Pemerintah AS.
Berprospek
Disinggung soal prospek di akhir tahun, CEO Suri Nusantara Jaya ini mengatakan, pihaknya tetap optimis akan terjadi peningkatan.
“Prospek akhir tahun cukup baik karena untuk memenuhi kebutuhan Hari Raya Keagamaan maupun Tahun Baru,” tambahnya.
Dirinya menyambut baik sikap optimisme para pelaku usaha sektor ini.
“Saya lihat, para pelaku usaha sektor manufaktur tetap bersemangat menyongsong tahun baru. Ini sinyal positif. Kita berharap permintaan pasar dan daya beli masyarakat akan membaik,” ujarnya.
Menurutnya, pelaku usaha harus lebih gencar untuk mencari peluang-peluang baru, baik domestik maupun luar negeri. Secara internal, bisa melakukan efisiensi anggaran dan melakukan review terhadap barang-barang yang kurang diminati oleh pasar. (RN)












































