Jakarta, innews.co.id – Kearifan lokal yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting untuk masuk pada pasar global. Tinggal bagaimana para pengusahanya memperlengkapi diri agar dapat bersaing di level internasional.
“Pasar dunia memang tidak mudah. Ada begitu banyak persyaratan yang harus dipenuhi sehingga produk yang dijual mampu memenuhi standar global,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta Diana Dewi, dihadapan para kader Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya, dalam Diklatda 2026, di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, Jakarta memiliki banyak keunggulan yang menjadi modal penting untuk dipasarkan. Antara lain, kuliner, fashion, kriya, seni budaya. kebaya encim, batik betawi, kerak telor, bir pletok, dan sebagainya.
“Itu semua bukan sekadar warisan, melainkan aset ekonomi yang belum digarap maksimal,” ujar CEO Suri Nusantara Jaya Group ini.
Diana Dewi menambahkan, dengan keberadaan Jakarta menuju 500 tahun, serta target masuk Top 50 Global City di 2030, waktunya bukan lagi nanti, melainkan sekarang harus mulai digarap secara maksimal.
“Disinilah peran para pengusaha muda untuk berjibaku dengan segala ide kreatif dan inovasi yang dipadu dengan teknologi terkini untuk memarketkan hal tersebut,” imbuh pengusaha nasional ini.
Dengan lugas, Founder Toko Daging Nusantara ini memotivasi para pengusaha muda. “Bagi para pengusaha muda anggota HIPMI Jaya, akar kalian adalah kekuatan kalian. Jangan ditinggalkan. Mari jadikan itu yang membedakan kita serta kekuatan di masa depan,” serunya.
Dirinya yakin, kompetensi para pengusaha muda di Jakarta tidak kalah dengan negara-negara lain. “Saat ini era keterbukaan, di mana kita bisa belajar banyak melalui berbagai platform yang ada. Gunakan itu untuk memadukan kearifan lokal dengan digitalisasi sehingga mampu mendorong produk kita masuk pasar global,” tukasnya. (RN)












































