Jakarta, innews.co.id – Kebaya memiliki sejarah panjang di Nusantara. Busana tradisional perempuan Nusantara ini berasal dari pengaruh Arab, Tiongkok, dan Portugis.
Kata ‘kebaya’ sendiri berasal dari bahasa Arab “abaya” atau “habaya” (pakaian). Orang Portugis sendiri menyebutnya dengan “cabaya”.
Pada tahun 1600-an, kebaya resmi dipakai oleh keluarga kerajaan di Jawa dan kalangan bangsawan sebagai lambang status sosial tinggi. Sebelumnya, perempuan Jawa umumnya memakai kemben. Baru pada abad ke-19, kebaya menjadi pakaian sehari-hari bagi semua kelas sosial.
Kebaya merupakan blus tradisional yang dikenakan wanita Indonesia dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya.
Seiring waktu, kebaya bertransformasi menjadi simbol perjuangan nasional dan kini diakui sebagai identitas serta busana nasional perempuan Indonesia.
Pada Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) tahun 1964, kebaya dikukuhkan sebagai pakaian persatuan dan identitas perempuan Indonesia. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 19 Tahun 2023, ditetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional.
“Kebaya merupakan simbol jati diri perempuan Indonesia turun temurun. Memiliki nilai sejarah tradisi lintas generasi dan telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada 4 Desember 2024,” kata Rukmini Triastuti, Ketua Umum Puspa Putri Nusantara (Puspita), di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Baginya, melestarikan kebaya merupakan bagian dari pelestarian budaya. Karena kebaya salah satu ciri khas dan kebanggaan perempuan Indonesia.
“Kebaya merupakan cermin keanggunan perempuan Indonesia,” tuturnya.
Dirinya mendukung pelestarian kebaya, tidak hanya untuk kegiatan formal, tapi juga bisa digunakan untuk acara-acara informal.
Menurutnya, dibutuhkan sosialisasi dan pengenalan nilai dan makna kebaya sejak dini kepada generasi penerus.
Rukmini juga mendorong generasi muda untuk mengenakan kebaya. “Perlu inovasi dan modernisasi kebaya, baik model maupun bahannya. Tentu disesuaikan dengan selera generasi muda,” serunya.
Dirinya yakin kecintaan akan kebaya tidak akan punah, meski dibutuhkan kerja keras untuk terus menggemakan kebaya, khususnya kepada generasi muda. (RN)










































