Jakarta, innews.co.id – Kolaborasi antara pemangku kepentingan, swasta, dan masyarakat akan mendorong upaya pencegahan dan pengendalian penyakit AIDS, tuberkolosis, dan malaria (ATM), lebih optimal lagi.
“Pengendalian dan pencegahan penyakit AIDS, tuberkolosis, dan malaria, harus menjadi beban bersama dan dilakukan secara komprehensif,” kata Ketua Umum Forum CSR DKI Jakarta Aldi Imam Wibowo, di Jakarta, Selasa (1/8/2026).
Menurutnya, berbagai elemen masyarakat harus bekerja sama dan mendorong terciptanya ruang-ruang sinergi.
Bahkan, pelaku usaha dan perusahaan pun harus aktif mensosialisasikan pentingnya lingkungan kerjanya bebas dari penyakit ATM.
Secara khusus, Forum CSR DKI Jakarta berpartisipasi dalam pertemuan Penguatan Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (PP ATM) di DKI Jakarta, di Hotel Ashley Tanah Abang, Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Data yang ada menyebutkan, jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS di Jakarta mencapai 37.581 orang. Angka tersebut menempatkan Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi kasus HIV tertinggi di Indonesia.
Belum ada angka resmi jumlah penderita tuberkolosis (TBC) di Jakarta. Namun, di Jakarta Barat saja, hingga awal September 2026 sudah tercatat 7.378 pasien TBC.
Sementara untuk penyakit malaria, DKI Jakarta telah resmi dinyatakan sebagai salah satu wilayah yang mencapai eliminasi atau bebas dari penularan malaria, sehingga tidak ada penularan lokal aktif di wilayah ini pada tahun 2026.
Aldi menilai, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan (Resilient and Sustainable System for Health/RSSH).
Aldi berharap, melalui kolaborasi dan kontribusi bersama, upaya pencegahan dan pengendalian ATM di masyarakat maupun lingkungan perusahaan diharapkan dapat terus diperkuat dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat Jakarta. (RN)











































