Jakarta, innews.co.id – Tembok-tembok lembaga pemasyarakatan (Lapas) tak meredupkan bakat menjahit yang dimiliki Fajar. Justru di tempat itu dirinya kian ditempa. Alhasil, ketika menghirup udara segar, dirinya membuka usaha konveksi rumahan. Perlahan tapi pasti, Fajar mulai banjir orderan.
Memiliki keahlian menjahit, Fajar bergabung di divisi jahit bengkel konveksi Lapas Kelas II Garut.
“Selama di dalam justru banyak hal lain yang saya bisa pelajari untuk meningkatkan keahlian. Mulai dari menguasai pembuatan pola, pengukuran hingga pemotongan kain,” kisah Fajar, kepada awak media usai lapor pembebasan bersyarat.
Ditambahkan lagi, faktor regenerasi membuat dirinya didaulat memimpin divisi tersebut. Fajar dipercaya memimpin delapan warga binaan di bengkel konveksi. Tak hanya menjahit, ia pun belajar tentang leadership.
Pernah ia bersama tim harus menyelesaikan pesanan 1.500 tas serut dalam waktu tiga minggu. Pola pembagian tugas pun ia jalani. Tak hanya itu, dia mengusulkan ke pimpinan Lapas agar diizinkan kerja lembur.
“Alhamdulillah, permintaan saya dikabulkan. Jadilah saya dan tim tidur di bengkel untuk menyelesaikan kerjaan. Bahkan, makanan kami khusus di antar ke tempat kerja,” ujarnya.
Dari rangkaian pengalaman, Fajar belajar bahwa mengejar target tidak selalu berarti meminta semua orang terus bekerja. Jika ada napi yang jenuh atau terlihat bosan, Fajar membiarkan napi tersebut istirahat atau mencoba belajar hal baru lainnya di bengkel konveksi lapas.
Buka konveksi
Usai bebas bersyarat, Fajar tak butuh waktu lama untuk bergerak. Atas arahan Asep Kepala Seksi Bimbingan Kerja Lapas Garut dan Mubarok, pelaku UMKM yang bekerja sama dengan Lapas Garut, Fajar mendirikan konveksi rumahan.
“Fajar tidak sekadar dipekerjakan (di bengkel konveksi Lapas Garut), tapi kita ajak diskusi proyeksi mengembangkan bisnis konveksi,” aku Asep.
Bagi Fajar, sosok Asep bukan sekadar petugas lapas, tapi juga “ayah” untuk para napi di bengkel konveksi.
“Saya dekat dengan Pak Asep dan sering berdiskusi. Harapan saya ke depan, tempat bimbingan kerja konveksi di Lapas Garut bisa semakin banyak alatnya, bisa lebih modern alat-alatnya,” tutur Fajar.
Kini, Fajar juga bekerja di perusahaan konveksi dan selepas maghrib, ia mengerjakan orderan pribadinya dengan mesin jahit bekas seharga Rp 1,5 juta, yang diberikan oleh mertuanya.
“Untuk sekarang, saya sehari-hari kerja dikonveksi. Jadi orderan jahit, permak kalau di rumah itu saya kerjakan sesudah saya selesai kerja di konveksi. Misalnya setelah maghrib sampai jam 22.00 WIB,” jelas Fajar.
Order pertamanya membuat satu setel almamater, lengkap dengan rompi dan celana pesanan saudaranya dengan biaya Rp150 ribu. “Saya masih merintis dan lagi kebetulan saudara yang order. Saya enggak matok harga, yang penting orang-orang tahu bagaimana kualitas jahitan saya,” tukasnya.
Seiring waktu, orderan-orderan lain mulai berdatangan. Bagi Fajar, setiap pakaian yang datang ke rumah adalah kesempatan untuk mengumpulkan pelanggan.
Dari kerja di konveksi dan usaha rumahannya, Fajar memperoleh penghasilan hampir Rp4 juta pada bulan pertamanya setelah bebas. Memasuki bulan kedua, dalam satu pekan ia pernah mengantongi lebih dari Rp1 juta, lalu sekitar Rp900 ribu pada pekan berikutnya.
Uang yang ia peroleh belum banyak ia gunakan untuk hal lain. Ia memilih mengumpulkannya sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan menjahit, seperti penggaris pola dan benang.
“Saya mau narik pelanggan dan branding kualitas jahitan saya dulu. Ini saya masih kumpulin keuntungan buat modal, beli penggaris pola, benang-benang,” pungkasnya. (RN)














































