Jakarta, innews.co.id – Turunnya nilai tukar Rupiah, terutama kepada Dollar Amerika, patut diwaspadai. Pelemahan tersebut berdampak buruk bagi stabilitas perekonomian nasional.
“Berbagai faktor mempengaruhi pelemahan Rupiah, baik internal maupun eksternal,” kata praktisi ekonomi, Dr. John N. Palinggi, MM., MBA., di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, karena begitu banyak faktor mempengaruhi turunnya nilai tukar Rupiah, maka tidak pantas bila hal tersebut ditimpakan ke Presiden Prabowo Subianto semata.
“Tidak perlu menghina dan mencaci maki pemerintah. Justru kita harus bersatu untuk bagaimana kondisi bangsa ini bisa kembali normal dan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing menguat,” ujarnya.
Di tahun 1998, meroketnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mencapai Rp 17.000 mengakibatkan Presiden Soeharto jatuh. Banyak orang bilang IMF telah mencelakai Indonesia.
“Bukan, karena faktanya 86,4% pengusaha Indonesia black list di perbankan di tahun 1998. Terjadi kredit macet sebesar Rp 450 triliun. Dibentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang berhasil menyelamatkan hanya Rp 139 triliun, sementara Rp 311 triliun menguap begitu saja oleh para pengusaha yang black list itu,” urainya.
Tahun 1999, dikucurkan lagi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dengan tujuan bank-bank bisa membayar nasabahnya agar ekonomi bisa jalan. Ternyata, Rp 145,5 triliun yang dikucurkan, justru pengusaha beli Dollar Amerika. Dari jumlah Rp 145,5 triliun, hanya bisa diselamatkan Rp 30 triliun oleh BPPN, hilang uang negara Rp 115,5 triliun saat itu.
Lalu pemerintah memutuskan memberi Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) sebesar Rp 650 triliun kepada 26 bank, terbesar BCA Rp 54 triliun. Satu sen pun tidak ada yang kembali. Dan, itu seolah dilupakan oleh banyak orang, termasuk para pengusaha yang dapat bantuan kredit tersebut.
Jadi total ada Rp 1.075 triliun uang hilang begitu saja. “Itu penyakit mendasar. Kitanya yang tidak beres dan berjiwa pencuri terhadap negara sendiri, termasuk pengusaha itu,” tegas John.
Meski begitu pengusaha berlaku seperti itu kalau tidak ada bantuan otoritas melalui lemahnya legislasi. Di negara ini kelemahannya, tidak jelas pengusaha dan oknum penguasa. Beda dengan negara lain yang ketat soal itu.
Pandemi Covid-19
Setelah itu terjadi pandemi Covid-19, pada 2019-2020. “Ketika itu, bisa dikatakan bangsa kita sudah tidak ada lagi uang di kas negara. Tapi dengan langkah-langkah yang taktis, Presiden Joko Widodo mampu menyelesaikan pembiayaan, sekitar Rp 1.920 triliun dan kita bisa keluar dari masalah tersebut,” jelasnya.
Pengalaman itulah, sambung John, membuat saya dalam beberapa waktu ini merenung, apakah tidak sebaiknya kita usulkan agar Presiden Jokowi bisa membantu bangsa ini. Tentu Pak Jokowi mengerti celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi kondisi ini.
“Pengalaman saat pandemi adalah sesuatu yang luar biasa. Dan, pasti Pak Jokowi tahu sumbernya. Melalui wawancara ini saya memohon dengan hormat agar Pak Jokowi bisa membantu negara ini. Saya yakin Bapak tahu cara mengatasi masalah ini,” tukasnya.
John yakin, bila Jokowi melakukan langkah strategis yang dimaksud, maka nilai tukar dollar Amerika akan turun mencapai Rp 15.000. “Sudah tidak usah dipikirkan segala bentuk penghinaan dan caci maki terhadap Bapak. Anggap saja itu vitamin. Sekarang saatnya Bapak bisa membantu negara ini keluar dari ancaman krisis,” tandasnya.
Perkiraan saya, lanjutnya ada uang Dollar Amerika di Bank Indonesia secara online, yang bila dicairkan akan dapat menaikkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Saat ini, kita harus berhati-hati dengan kondisi ini.
“Saya yakin bapak mengetahui dimana dan bagaimana caranya untuk menolong negara ini dari keterpurukan,” yakinnya.
John Palinggi meminta agar Joko Widodo duduk bersama Presiden Prabowo Subianto untuk memberi masukan terkait penguatan nilai tukar Rupiah di pasar dunia. (RN)












































