Jakarta, innews.co.id – Kebaya bukan sekadar busana, tetapi juga cerminan jati diri, nilai, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Hal tersebut dikatakan penggiat wanstra Indonesia Diana Dewi, pada peringatan Hari Kebaya Nasional, di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Baginya, di setiap helai kain dan setiap detail sulamannya, tersimpan kisah tentang keberagaman, keanggunan, serta semangat perempuan Indonesia dalam menjaga tradisi.
Kata ‘kebaya’ sendiri berasal dari bahasa Arab “abaya” atau “habaya” (pakaian). Orang Portugis sendiri menyebutnya dengan “cabaya”.
Pada tahun 1600-an, kebaya resmi dipakai oleh keluarga kerajaan di Jawa dan kalangan bangsawan sebagai lambang status sosial tinggi. Sebelumnya, perempuan Jawa umumnya memakai kemben. Baru pada abad ke-19, kebaya menjadi pakaian sehari-hari bagi semua kelas sosial.
Lebih jauh dikatakannya, sebagai kota global yang berakar pada budaya, Jakarta memiliki sejarah panjang sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya yang turut memperkaya perkembangan kebaya.
Seperti Kebaya Encim yang lahir dari akulturasi budaya hingga ragam kebaya modern yang tetap menghormati nilai tradisi. “Kebaya menjadi simbol persatuan dalam keberagaman,” tukas Founder Toko Daging Nusantara ini.
Diana Dewi mendorong generasi muda untuk juga mencintai kebaya. Tentu agar dapat terus hidup ditengah masyarakat, kebaya harus ditransformasi, baik kain, motif, maupun modelnya.
“Kita semua memiliki tanggung jawab agar kebaya tidak punah atau diakui menjadi warisan budaya negara lain,” tukasnya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta ini mengajak semua pihak, khususnya perempuan Indonesia untuk bersama-sama melestarikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa dengan bangga mengenakannya dan terus menjaga nilai-nilai budaya Indonesia. (RN)











































