Jakarta, innews.co.id – Peringatan Hari Kartini selalu memiliki aura berbeda bagi perempuan Indonesia.
Di hari itu, tidak hanya mengenang sebuah perjuangan yang dilakukan Raden Ajeng Kartini, tapi juga menjadi pengingat sekaligus introspeksi untuk melihat bagaimana derap langkah kaum perempuan saat ini dan ke masa depan.
“Gaung ‘women support women’ harus jadi sikap nyata, bukan sekadar tagline. Karena, ketika perempuan saling menguatkan dan membuka jalan, eksistensi perempuan akan semakin terasa dan semakin kuat,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Tashya Megananda Yukki, dalam rangka Hari Kartini 2026, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Berkaca pada pengalamannya berorganisasi, Tashya mengaku bisa melihat langsung betapa pentingnya koneksi antar perempuan lintas generasi.
“Yang senior biasanya membawa pengalaman dan ketenangan dalam mengambil keputusan. Sementara yang lebih muda membawa energi dan ide-ide baru. Ketika keduanya bisa saling mendukung, hasilnya akan jauh lebih kuat. Tidak ada lagi rasa saling membandingkan, tapi justru saling melengkapi,” ujar pengusaha kuliner dan butik ini.
Baginya, sikap saling mendukung di antara sesama kaum wanita menjadi sangat penting. “Jangan hanya jadi slogan, tapi harus benar-benar dijalankan. Saling membuka jalan, saling berbagi, dan saling menguatkan, bukan saling membandingkan,” imbuh peraih penghargaan Outstanding Women Entrepreneur dalam ASEAN Women Entrepreneur Network (AWEN) Award 2023 ini.
Marak KDRT
Dirinya mengaku masih miris melihat masih banyak kaum perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tidak hanya terjadi di daerah, tapi juga di kota-kota besar, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi.
“KDRT juga bisa menimpa kaum wanita, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun. Ini harus tetap menjadi perhatian semua pihak,” cetusnya.
Ini merupakan masalah klasik yang masih terus berulang. Salah satu penyebabnya justru karena banyak perempuan sering kali tidak menempatkan dirinya sebagai prioritas, karena lebih mengutamakan anak-anak dan keluarga.
“Dalam situasi seperti ini, penting bagi setiap perempuan apa pun latar belakangnya untuk tetap kuat, berani bersuara, serta tidak merasa perlu diam ataupun malu,” tegas Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kadin DKI Jakarta ini.
Generasi emas
Bicara generasi emas, Tashya menegaskan, peran perempuan sangatlah besar.
“Melahirkan generasi emas itu starts from home, di mana peran perempuan besar sekali. Dari rumah, anak-anak pertama kali mendapatkan pondasi hidup. Mulai dari pemberian gizi yang baik, pendidikan, hingga nilai dan norma perilaku. Di sinilah peran perempuan, khususnya seorang ibu menjadi sangat penting. Bukan hanya memastikan kebutuhan fisik terpenuhi, tapi juga membentuk karakter, kebiasaan, dan cara berpikir anak sejak dini,” jelasnya.
Karenanya, ketika berbicara tentang generasi emas, maka kita juga harus memastikan bahwa para perempuan didukung, baik dari sisi kesehatan, edukasi, maupun lingkungan. Karena dari rumah yang kuat akan lahir generasi yang kuat.
Kedepan, dirinya berharap kaum perempuan semakin eksis. Tidak hanya sekadar ber-medsos ria, tapi juga memiliki nilai tambah, baik untuk mendukung perekonomian keluarga maupun kemajuan anak-anaknya.
“Kita bersyukur menjadi sosok yang multi-talent. Itu harus dimaksimalkan tanpa melupakan kodrat sebagai seorang ibu dan istri yang senantiasa mencurahkan perhatian kepada keluarganya,” pungkasnya. (RN)












































