Jakarta, innews.co.id – Aksi demo yang dilakukan sejumlah mahasiswa pada Seminar Nasional bertema “Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua”, diinisiasi oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat, di JS Luwansa Hotel & Convention Center, Rabu (21/10/2026), berbuntut isu tidak sedap.
Pasalnya, tudingan negatif dialamatkan pada pengusaha asli Papua Maximus Tipagau, SE., yang datang sebagai undangan pada acara itu.
Tidak main-main, sosok putra asli Papua yang mulai berbisnis dari bawah hingga mendirikan PT Mpaigelah ini, dituding menjadi otak dari aksi tersebut. Tuduhan menyesatkan itu jelas-jelas merugikan dirinya.
“Saya datang karena diundang oleh panitia, bukan atas dasar kemauan sendiri. Kalau tidak diundang pun, saya tidak akan datang,” kata Maximus memberi klarifikasi, Jumat (23/10/2026).
Dirinya merasa ada pihak-pihak yang dengan sengaja menghembuskan isu negatif untuk menjatuhkan kredibilitas dirinya.
“Saya orang Papua dan cinta Tanah Papua. Tidak ada alasan saya untuk tidak membangun Papua dengan cara-cara yang benar dan bermartabat,” ucapnya keras.
Dirinya tidak tahu menahu terkait rencana aksi dari para mahasiswa yang menamakan diri Front Anti-Militerisme dan Anti-Investasi Papua tersebut. “Saya tidak tahu. Tiba-tiba mereka masuk ke ruangan acara dan meminta acara dibubarkan. Saya sendiri juga kaget dengan aksi tersebut,” aku Owner Tour Travel Cartenz Piramid ini.
Seperti diketahui, para mahasiswa mendesak masuk tempat acara. Mereka berorasi dan menyerukan agar acara dibubarkan saat itu juga.
“Seminar tersebut bagus untuk melihat potensi yang ada di Papua, juga bagaimana peluang investasi dan kerja sama yang dilakukan pihak swasta dengan pemerintah setempat,” jelasnya.
Di sisi lain, aspirasi dari teman-teman mahasiswa juga harus didengar dan dicermati. “Semua pihak harus duduk bersama untuk membahasnya sehingga investasi yang dilakukan tidak lantas mengorbankan alam Papua,” tukasnya.
Dirinya juga meminta para mahasiswa untuk lebih bijak lagi dalam menyampaikan pendapat, tidak langsung hajar ditengah-tengah acara. “Diperlukan keterbukaan komunikasi dan keinginan untuk saling mendengar,” pungkasnya. (RN)
















































