Jakarta, innews.co.id – Jakarta telah menjadi salah satu destinasi konser penyanyi kelas dunia. Hal tersebut memberi benefit tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi, sekaligus mendukung Jakarta masuk dalam Kota Global yang kompetitif.
Terbaru, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkirakan terjadi perputaran uang sebesar Rp 625 miliar dari konser Kanye West (Ye), 24 Oktober lalu. Dari angka itu, Rp328 miliar di antaranya berasal dari penjualan tiket dan sisanya dari pengeluaran penonton untuk akomodasi, kuliner, transportasi, dan ritel.
“Konser-konser musik kelas dunia tentu mendorong akselerasi perputaran ekonomi. Dari sejumlah konser yang diadakan, terlihat Jakarta telah siap untuk menjadi kota dunia dengan sarana prasarana yang mumpuni,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta Diana Dewi, di Jakarta, Minggu (25/10/2026).
Diana Dewi mengatakan, pariwisata merupakan salah satu sektor yang harus digarap secara maksimal. Demikian halnya di Jakarta. Selain banyak spot-spot pariwisata yang bisa digarap, berbagai event kelas dunia bisa dilakukan di Jakarta karena memiliki infrastruktur yang memadai.
“Keberhasilan Jakarta menggelar konser-konser musik penyanyi dunia menunjukkan kesiapan Jakarta untuk masuk jajaran Kota Global Elite,” imbuhnya.
Diyakini, konser musik yang diadakan tentu ikut menggerakkan perekonomian lokal maupun nasional.
Setelah ini, akan ada konser musik yang cukup menghebohkan yakni, Konser BTS yang rencananya akan diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), pada 26, 27, dan 29 Desember 2026.
Dukung pertumbuhan UMKM
KADIN DKI Jakarta mendukung tampilnya penyanyi-penyanyi kelas dunia di Indonesia–Jakarta khususnya. Ini menjadi sinyal positif bahwa Jakarta telah menjadi salah satu ikon konser-konser musik kelas dunia.
Diharapkan, pada konser-konser tersebut lebih dilibatkan UMKM sehingga memberi peluang pasar secara terbuka.
Founder Toko Daging Nusantara ini menegaskan, Jakarta tidak kekurangan aset potensial, tetapi tantangannya terletak pada bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kunjungan berulang, masa tinggal yang lebih panjang, dan belanja wisatawan yang lebih besar.
“Beberapa hal perlu terus mendapat perhatian, seperti: perbaikan konektivitas bandara, pengembangan rute penerbangan baru, dan penguatan transportasi publik hub.
Selain itu, mempercantik kawasan perbelanjaan & ritel, memperkuat konektivitas digital & promosi, memastikan kebersihan destinasi & fasilitas umum. Juga tak kalah penting adalah penyederhanaan visa untuk memudahkan akses masuk wisman dan insentif bagi sektor swasta.
“KADIN DKI Jakarta memandang pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang berdampak cepat bagi Jakarta untuk menggerakkan multi-sektor, mulai dari transportasi, perhotelan, ritel, hingga UMKM kuliner dan kerajinan lokal,” tukasnya. (RN)
















































