Jakarta, innews.co.id – Profesi sebagai kurator dan pengurus kerap beririsan dengan persoalan hukum. Karenanya, organisasi yang mewadahinya harus memiliki ‘perangkat’ sehingga bila ada anggota yang tersandung hukum bisa langsung di advokasi.
“Perlindungan anggota menjadi komponen penting yang akan kami perjuangkan bila nanti terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekjen AKPI,” kata Calon Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI), Nien Rafles Siregar, di Jakarta, Kamis (7/8/2025).
Dirinya menggagas ada semacam P3K bagi para kurator dan pengurus, termasuk di daerah-daerah. Jadi, semacam pertolongan pertama pada kecelakaan, istilah dalam dunia medis.
Rafles-Nahot berkomitmen memperbaiki mekanisme bantuan hukum dengan SOP yang lebih sederhana dan responsif.
Profesional & Berintegritas
Duet Rafles-Nahot memiliki visi jelas untuk memperkuat profesionalisme, menjaga integritas, menegakkan etika profesi, sekaligus memperjuangkan perlindungan hukum bagi anggota yang kerap menghadapi tekanan hingga kriminalisasi di lapangan.
“Kami akan membangun anggota AKPI tidak saja ‘ber-ISI’ dari sisi keilmuan dan wawasan, tapi juga ‘BERANI’. AKPI butuh kurator yang pemberani untuk dalam mengeksekusi dan menjalankan program yang pro anggota,” tutur Rafles.
Baginya, AKPI tetap fokus pada nilai integritas. Di mana ada kewenangan besar, di situ ada moral hazard. Ini yang harus diantisipasi organisasi. “Kami berkomitmen menyempurnakan sistem bantuan hukum dengan protokol yang lebih sederhana dan responsif bagi anggota,” tambahnya.
Tak hanya itu, paslon nomor urut 1 ini juga menyoroti pentingnya memperkuat partisipasi anggota di daerah. “Kita maunya organisasi ini bottom-up, bukan top-down. Karena wilayah tahu apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sementara pusat akan memfasilitasi,” jelasnya.
Rafles juga menegaskan salah satu fokus utama “Berani” adalah penguatan perlindungan hukum bagi anggota kurator. Ia berkomitmen memperbaiki mekanisme bantuan hukum dengan SOP yang lebih sederhana dan responsif.
AKPI Mendunia
Rafles-Nahot juga bertekad membawa AKPI mendunia. Dijelaskan, AKPI telah menjadi delegasi Indonesia dalam forum PBB dan pendiri RRIOF (Regional Restructuring and Insolvency Organization Forum), forum insolvency regional bersama sembilan negara Asia Pasifik.
Dirinya menyebut kemungkinan tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemian RRIOF.
“Mudah-mudahan tahun depan Indonesia bisa jadi tuan rumah RRIOF,” harapnya.
Dirinya menegaskan, dia bersama Nahot merasa seperti ‘berutang’ kepada AKPI yang telah membesarkan mereka. “Komitmen kami tulus untuk melayani. Jadi, bukan sekadar membuat program, tapi juga bisa mengeksekusi,” imbuhnya.
Jelang RAT AKPI yang rencananya akan diadakan pada 26 Agustus ini, ketegangan mulai terasa. Meski begitu, Rafles memastikan hubungan antar kandidat tetap penuh kehangatan.
“Ini hanya agenda demokrasi AKPI tiga tahun sekali. Usai RAT AKPI, semuanya harus kembali bersatu, tanpa ada kubu-kubuan. Kontestasi itu hanya seumur jagung. Selebihnya kita tetap teman dan sahabat satu sama lain,” tukasnya. (RN)












































