Jakarta, innews.co.id – Perubahan jaman dan perkembangan teknologi menuntut kesiapan organisasi kemasyarakatan (ormas) untuk terus melakukan penguatan intelektual dan adaptif.
Dua hal tersebut menjadi visi pasangan Michael Wattimena–akrab disapa BMW dan Penrad Siagian (PS), yang terpanggil untuk ikut kontestasi sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) periode 2025-2030.
Ditengah kesibukannya, kedua tokoh ini merasa terpanggil untuk mengelaborasi kaum intelektual Kristen untuk memberi sumbangsih pemikiran dan tindakan, utamanya dalam mendukung Indonesia Emas 2045.
“Berbekal pengalaman, kami rindu untuk mengkolaborasi dan mengelaborasi pemikiran-pemikiran cendikiawan Kristen,” kata BMW, di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Baginya, cendikiawan Kristen memiliki kemampuan intelektual mumpuni yang bisa berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. “Sayang sekali bila kemampuan tersebut harus ‘terpenjara’ karena ada stagnasi aksi dari wadah yang menaunginya,” tukasnya.

Seperti diketahui, BMW dikenal sebagai aktifis sejak belia. Menduduki jabatan sebagai Anggota DPR RI periode 2009-2019, di posisi strategis sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI. Kini, dirinya dipercaya sebagai Komisaris PT Pertamina International Shipping dan Tenaga Ahli Menteri ESDM RI. Sementara Penrad Siagian, selain sebagai hamba Tuhan juga Anggota DPD RI periode 2024-2029 daerah pemilihan Sumatera Utara.
Visi ‘Dua Dimensi’
Keduanya bertekad membawa PIKI menjadi wadah yang tidak hanya kuat secara intelektual dalam dimensi keumatan, tetapi juga adaptif dengan konteks kekinian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kuat dalam intelektual dan adaptif menjadi ‘senjata’ bagi cendikiawan Kristen di era kini,” ujar BMW.
Dia menambahkan, PIKI merupakan ormas yang berbeda dengan GMKI atau GAMKI, meski tetap satu tarikan nafas.
“Fokus kita ke depan adalah penguatan aspek intelektualitas dalam menyikapi persoalan gereja, masyarakat, dan negara. Juga bagaimana kita mengkombinasikan intelektual dengan sikap adaptif terhadap teknologi,” terang Ketua Umum GAMKI dua periode (2011-2019) ini.
Riset dan data
Baik BMW maupun PS memahami bahwa riset dan data memegang peranan penting dalam membuat sebuah kebijakan.
“Sebuah kebijakan akan kuat bila didasari oleh riset dan data. Disitulah peran penting PIKI untuk bagaimana berkolaborasi strategis dengan kementerian, NGO (dalam dan luar negeri), lembaga keumatan, dan media massa, sehingga diperoleh riset yang komprehensif,” tukasnya.
Harus diakui, ungkap keduanya, saat ini keterwakilan pemikiran Kristen dalam kebijakan politik, HAM, hingga teknologi masih sangat terbatas.
“Kami ingin PIKI berbasis riset untuk mempengaruhi arah kebijakan negara,” tambah PS.
Tawarkan 4 pilar
BMW dan PS mengusung 4 pilar yakni: Intelektual, Spiritualitas, Transformasi Sosial, dan Relasi (jejaring) yang akan membungkus visi utamanya “Menyatakan Kasih dan Kebenaran”.
Dia menegaskan, PIKI harus dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam konstruksi Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dari Komisi I hingga XIII DPR RI. “Jadi, setiap UU yang lahir harus memiliki jejak pemikiran inteligensia Kristen,” tukasnya.
Saat ini, BMW-PS siap ikut berkontestasi pada Pesta Demokrasi PIKI, yang akan diadakan 30 April-2 Mei 2026. Keduanya telah siap bertarung gagasan untuk merebut hati para pemilik suara.
“Kami berharap gagasan kami bisa diterima, baik oleh Pengurus Pusat, Daerah maupun Cabang. Niat kami baik untuk mengangkat intelektual Kristen menjadi semakin diperhitungkan di bangsa ini. Kalah menang hal biasa dalam kontestasi. Namun, perlu kejujuran dalam prosesnya,” pungkasnya. (RN)











































