Jakarta, innews.co.id – Bantuan satu ton daging rendang siap santap (ready to eat) dikirimkan kepada warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana alam. Ini merupakan kolaborasi Forum CSR DKI Jakarta dengan PT Suri Nusantara Jaya (SNJ).
“Kami prihatin dan menyampaikan rasa duka yang mendalam atas bencana yang menimpa masyarakat di NTT,” kata Ketua Forum Corporate Social Responsibility (CSR) DKI Jakarta, Aldi Imam Wibowo, dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Sebagai bentuk kepedulian, SNJ bersama Forum CSR DKI Jakarta melakukan aksi nyata dengan mengirimkan daging rendang siap santap kepada warga di daerah bencana.
Menurutnya, pemenuhan nutrisi para pengungsi sangat penting. Apalagi mereka masih di tempat-tempat pengungsian yang minim listrik, air bersih, dan kondisi jalan serta dapur umum yang terbatas.
“Korban bencana tidak hanya butuh karbohidrat instan, melainkan asupan protein berkualitas agar imun tubuh tetap terjaga selama di pengungsian,” imbuhnya.
Teknologi retort
Lebih jauh Aldi menjelaskan, daging rendang yang dikirim menggunakan teknologi masa kini, yakni retort, di mana proses sterilisasi termal modern pada kemasan kedap udara.
“Teknologi ini merupakan solusi nyata terhadap pemenuhan gizi serta ketahanan fisik masyarakat terdampak untuk dapat mencegah penurunan daya tahan tubuh dan malnutrisi, jaminan higienitas tanpa risiko kontaminasi pangan, menembus isolasi geografis tanpa rantai pendingin (non-cold chain) dan pemberian asupan secara cepat (zero cooking time),” jelas Aldi.
Dikatakannya, teknologi retort ini sangat bagus karena nutrisi terjaga, steril, dan dapat langsung dinikmati tanpa perlu repot memasak di tengah keterbatasan fasilitas dapur umum.
“Melalui teknologi ini, Toko Daging Nusantara membuat terobosan sekaligus aksi kemanusiaan yang sangat tepat sasaran,” seru Aldi.
Tak hanya itu, Aldi juga mendorong agar inovasi ini diadopsi secara luas khususnya dalam kebijakan kebencanaan nasional.
Salah satu keunggulan produk retort ini dapat bertahan selama satu tahun, sehingga sangat bagus untuk cadangan pangan.
“Harapan kami, pemanfaatan teknologi retort ini dapat segera direplikasi atau di-copy paste oleh para pemangku kepentingan lainnya, terutama pemerintah— baik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, Badan Pangan Nasional, hingga pemerintah daerah,” tukasnya.
Baginya, replikasi program pangan berteknologi retort ini layak menjadi standar utama cadangan logistik bencana nasional, sebab tahan lama, bebas pendingin, aman dikonsumsi, dan menjamin ketahanan gizi masyarakat di masa darurat.
Forum CSR DKI Jakarta berharap sinergi antara teknologi pangan industri, aksi korporasi, dan kebijakan pemerintah dapat terus diperkuat guna menghadirkan responkebencanaan yang cepat, bermartabat, dan berorientasi pada pemenuhan gizi berkelanjutan. (RN)













































