Jakarta, innews.co.id – Hari Batik Nasional 2026 yang diperingati setiap 2 Oktober, menjadi momentum penting untuk melihat sejauhmana upaya yang telah dilakukan dalam melestarikan busana Nusantara tersebut.
Bagi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, setiap goresan canting dan helai kain batik tidak hanya menyimpan keindahan seni, tetapi juga cerita, dedikasi, serta identitas budaya bangsa Indonesia.
“Dalam konteks Indonesia, batik bukan sekadar kain, melainkan bahasa visual pemersatu bangsa,” kata Diana Dewi, di Hari Batik Nasional, Jumat (2/10/2026).
Batik itu, lanjutnya, pemersatu dalam kebhinnekaan. Tercatat, Indonesia memiliki lebih dari 5.000 motif batik, dan semua dianggap sama sederajat sebagai Batik Indonesia.
“UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009. Yang diakui bukan batik Solo atau Jogja saja, tapi ‘Batik Indonesia’. Itu bentuk pengakuan bahwa keberagaman itu satu kesatuan,” jelas CEO Suri Nusantara Jaya ini.
Batik juga mencerminkan ekonomi gotong royong. “Rantai produksi batik adalah praktik pemersatu ekonomi,” jelas Founder Toko Daging Nusantara ini.
Diuraikan, perjalanan batik mulai dari petani kapas, pemintal benang, pengrajin, pembatik tulis, pembatik cap, hingga penjual di pasar. Ditaksir, ekonomi batik ditopang oleh 1,2 juta lebih UMKM yang tersebar di 101 sentra batik. “Memakai batik berarti ikut menjaga ekonomi rakyat lintas pulau,” ucapnya.
Ditegaskannya, kalau Bahasa Indonesia membuat kita bisa saling mengerti, maka batik membuat kita bisa saling merasa sebagai satu bangsa.
“Batik bersifat netral dan inklusif. Didalamnya terkandung nilai-nilai Pancasila. Jadi orang dari Aceh sampai Papua bisa memakai motif yang berbeda, tapi memaknai nilai yang sama: ketahanan, gotong-royong, harapan,” imbuhnya. (RN)
















































