Jakarta, innews.co.id – Indonesia tetap menjadi pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara. Hal tersebut ditunjukkan oleh data per Juli 2026 yang menyebutkan, kapasitas kursi penerbangan di Indonesia sebanyak 10,9 juta, terbanyak di Asia Tenggara. Angka ini naik 0,3% dibanding sebelumnya.
Meski begitu, secara umum, total kapasitas penerbangan di ASEAN justru turun 1,2% dibandingkan periode serupa tahun lalu. Diduga penyebabnya kenaikan harga bahan bakar avtur akibat ketegangan politik di Timur Tengah, dampak krisis geopolitik di Timur Tengah, dan efisiensi yang dilakukan sejumlah maskapai di ASEAN dengan memangkas beberapa rute penerbangan internasional.
“Kita tentu menyambut baik karena meski ditengah tekanan biaya operasional dan gejolak geopolitik global, Indonesia tetap menjadi pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara,” kata Founder Masyarakat Hukum Udara (MHU) Indonesia Andre Rahadian, di Jakarta, Minggu (10/8/2026).
Di sisi lain, Vietnam naik ke posisi kedua, menggeser Thailand. Vietnam mengalami lonjakan jumlah kursi penerbangan sebesar 5,6%, menjadi 7,4 juta. Juga Vietnam Airlines didaulat menjadi maskapai dengan kapasitas kursi terbanyak mencapai 2,81 juta. Sementara Thailand mengalami penurunan 3%, di angka 6,9 juta kursi. Total kursi penerbangan di kawasan ASEAN mencapai 50,4 juta.
“Kenaikan peringkat Vietnam sekaligus menunjukkan perubahan peta persaingan industri penerbangan di kawasan ASEAN,” jelas praktisi hukum senior dan Partners di Law Firm Dentons HPRP ini.
Dikatakannya, kenaikan harga avtur dan dampak konflik di Timur Tengah memaksa sejumlah maskapai melakukan efisiensi, termasuk mengurangi beberapa rute internasional.
Menurut Andre, dengan tetap berada di posisi teratas, menggambarkan fakta bahwa Indonesia meski ditengah kondisi perekonomian kurang baik akibat sejumlah faktor, namun sinyal bahwa permintaan pasar domestik ternyata masih sangat kuat.
“Minat masyarakat menggunakan transportasi udara masih tinggi. Hal tersebut tentu memberi dampak positif bagi laju pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Untuk itu, dirinya mendorong pemerintah terus melakukan evaluasi sehingga penggunaan transportasi udara tetap tinggi. Mulai dari penurunan biaya avtur, penyesuaian harga tiket pesawat, dan lainnya yang memungkinkan daya beli masyarakat tetap kuat.
“Tentu evaluasi juga perlu dilakukan seluruh maskapai untuk dapat memberikan pelayanan maksimal dengan harga terjangkau,” tukas Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) periode 2019-2022 ini. (RN)
















































