Jakarta, innews.co.id – Salah satu produk ekspor yang dikhawatirkan melemah pasca kebijakan Presiden Donald Trump yang menaikkan tarif ekspor menjadi 32% kepada Indonesia, adalah kopi.
Pada tahun 2024, ekspor kopi dari Indonesia ke AS mengalami peningkatan sebesar 29,82%, mencapai Rp 23,31 triliun. Pasca kenaikan tarif ini, kemungkinan besar akan terkoreksi.
Sementara data tahun 2023, nilai ekspor kopi Indonesia ke AS mencapai US$215,5 miliar, dengan volume kopi yang diekspor sebesar 36,62 ribu ton. Ini menjadikan AS sebagai tujuan utama ekspor kopi Indonesia.
“Diprediksi bakal terjadi penurunan volume, di mana harga kopi Indonesia lebih mahal dan kurang kompetitif di pasar Amerika Serikat. Namun, jika produsen kopi Indonesia dapat mempertahankan volume ekspor, nilai ekspor mungkin tidak terlalu terpengaruh,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Diana Dewi, dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (7/4/2025).
Menurutnya, tak hanya kopi, produk ekspor lainnya yang kemungkinan mengalami hal yang sama antara lain: pakaian dan aksesoris. Pada Januari-Februari 2025 nilai ekspornya meningkat 23,73%. Juga alas kaki yang pada Januari-Februari 2025, nilai ekspor meningkat 18,14%.
Harus diakui, kata Diana, ketergantungan kopi Indonesia terhadap pasar Amerika Serikat cukup signifikan. Faktor yang mempengaruhi antara lain: keterbatasan pasar, konsumsi kopi di Amerika Serikat yang cukup tinggi, dan kopi merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, di mana Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utamanya.
Relokasi buyer
Lebih jauh Diana mengatakan, dengan kenaikan tarif ekspor tersebut tentu ada risiko relokasi buyer dari AS ke negara lain jika tarif impor kopi Indonesia relatif tinggi dibandingkan dengan negara pesaing seperti Brasil atau Kolombia.
Seperti diketahui, Brasil dan Kolombia adalah produsen kopi utama yang memiliki keunggulan kompetitif dalam hal harga dan kualitas, sehingga mereka dapat menjadi alternatif bagi buyer AS. Selain itu, letak geografis Brazil dan Kolombia lebih dekat dibandingkan Indonesia.
“Bila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia akan kehilangan pangsa pasar kopi utama,” ujar CEO Suri Nusantara Jaya ini.
Dikatakannya, masih terbuka peluang negosiasi, apalagi mengingat konsumsi kopi warga Amerika Serikat yang cukup tinggi.
“Peluang negosiasi bisa dimanfaatkan melalui kerja sama perdagangan internasional, pengurangan tarif, peningkatan kualitas ekspor, dan diversifikasi pasar,” tutur Founder Toko Daging Nusantara ini.
Selain itu, Diana menyoroti kemungkinan pelaku industri kopi Indonesia untuk shifting ke pasar non-tradisional. Sejumlah pasar tradisional yang menjanjikan yakni, negara-negara Asia seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan; Negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir; Negara-negara Afrika seperti Nigeria, Mesir, dan Afrika Selatan.
Dia menilai, shifting ke pasar non-tradisional dapat meningkatkan ekspor kopi Indonesia. “Shifting ke pasar non-tradisional juga dapat mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti AS dan Eropa. Namun, pelaku industri kopi Indonesia perlu melakukan riset pasar dan analisis yang cermat sebelum memutuskan untuk shifting ke pasar non-tradisional,” imbuh pengusaha nasional yang sukses dan telah meraih sejumlah penghargaan ini.
Ditambahkannya, perlu dilakukan langkah-langkah konkrit antara lain: meningkatkan kualitas kopi, mengoptimalkan proses produksi, dan mengembangkan teknologi. Selain itu juga, lebih memperhatikan standar kopi internasional, mengembangkan jaringan, dan meningkatkan nilai tambah kopi. (RN)












































