Jakarta, innews.co.id – Pelayanan misi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehadiran gereja ditengah dunia ini. Tugas dan panggilan gereja yakni, marturia, diakonia, dan koinonia menjadi sesuatu yang harus terus diperkuat.
United Evangelical Mission (UEM)–lembaga pelayanan lintas gereja, terus mendorong pelayanan holistik, tidak saja mendukung pelayanan, tapi juga melakukan pemberdayaan umat ditengah dunia yang serba tidak pasti ini.
Dalam peringatan usia ke-30, UEM mengadakan Konser HarmoniUS bertema “Faith Beyond Fear”, di Gedung Smesco, Jakarta, Sabtu (20/6/2026). Perayaan kali ini, berperan sebagai tuan rumah dan penyelenggara adalah Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Tampak hadir sejumlah gereja anggota UEM, baik di Indonesia maupun mancanegara.
“Gereja memiliki peran sentral, tidak saja dalam hal peribadahan, tapi juga memperkuat iman jemaat, terutama dalam menghadapi hiruk pikuk dunia ini,” kata Wakil Menteri Koordinator bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof Otto Hasibuan, pada acara tersebut.
Dirinya mendorong agar gereja-gereja berperan aktif dalam upaya preventif, memberikan pemahaman kepada umat, baik tentang bahaya narkotika, judi online, dan sebagainya.
“Saya miris melihat data penghuni lembaga pemasyarakatan, di mana lebih dari 60% adalah narapidana kasus narkotika. Disinilah peran gereja harus dimainkan, untuk bagaimana meneguhkan iman jemaat agar menjauhkan diri dari narkotika maupun judi online,” ujarnya.
Tidak hanya lewat mimbar-mimbar khotbah, tapi gereja bisa secara langsung membina keluarga-keluarga agar dekat dengan Tuhan. Sebab, keluarga yang dekat dengan Tuhan akan hidup rukun dan damai. Keluarga yang damai, akan menjadi benteng yang kuat untuk menghindari hal-hal negatif.
Sementara itu, Pdt. Dr. Andar Pasaribu Sekretaris Jenderal UEM mengajak umat untuk tidak perlu kuatir menghadapi kondisi dunia ini. “Ketakutan hanya akan membuat kita jauh dari Tuhan. Namun, dengan selalu berserah pada Tuhan, maka iman kita akan dikuatkan,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Pdt. Dr. Janhotner Saragih Sekretaris Jenderal Sinode GKPS. Menurutnya, kehadiran UEM sejak dulu terus mengalami transformasi dalam melayani umat. Karenanya, kedepan, UEM harus mempetajam visi-misinya dalam mendukung eksistensi pelayanan di gereja-gereja anggotanya.
Secara khusus, Ketua Panitia HUT UEM ke-30, Pdt Dr. Jenny Rossy Christine Purba menjelaskan, peringatan tiga dasawarsa UEM menjadi titik tolak dan tonggak sejarah perjalanan lembaga misi yang beranggotakan gereja-gereja di wilayah Asia, Afrika, dan Eropa tersebut.
“Berangkat dari perjalanan misionaris asal Jerman yang melakukan evangelisasi ke Afrika, Srilangka, Hongkong, dan Indonesia, maka Injil dihadirkan dan banyak orang percaya pada Yesus. Ini menjadi titik tolak untuk kita melihat bahwa api misi tersebut harus terus berkobar dan dilanjutkan sebagai bagian dari perjalanan iman,” tukasnya.
Peringatan 30 tahun UEM berlangsung meriah dan diisi dengan tari dan lagu dari berbagai daerah serta drama singkat penuh makna. (RN)










































