Jakarta, innews.co.id – Konflik di Timur Tengah tidak terlalu berdampak pada sektor usaha jasa boga. Justru saat ini, para pelaku usaha jasa boga kesulitan mendapat supply sejumlah bahan baku kuliner karena banyak terserap ke program makan bergizi gratis (MBG).
Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Provinsi DKI Jakarta, Siti Djumiadini menjelaskan, konflik di Timur Tengah tidak terlalu berdampak pada sektor usaha ini.
Sekalipun terjadi up and down dari sisi harga bahan baku kuliner, dirinya mengatakan, hal tersebut sudah lama terjadi karena fluktuasi ekonomi dalam negeri.
Saat ini, kendala yang kerap dihadapi adalah ketersediaan bahan baku kuliner, seperti telur, ayam gula, beras, dan lainnya yang cenderung susah karena tergerus oleh program MBG.
“Program MBG bagus karena meningkatkan bisnis kuliner, termasuk supply bahan bakunya,” kata Siti Djumiadini, di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Kesulitan memperoleh bahan baku kuliner berdampak pada naiknya harga-harga dan munculnya banyak penyuplai baru. “Kami harus mencari penyuplai-penyuplai baru. Di satu sisi itu pertanda baik karena artinya bahan yang ada terserap di pasar,” ujarnya.
Tak hanya itu, diakuinya saat ini untuk acara-acara pernikahan lebih banyak bermodel intimate wedding, di mana jumlah tamunya terbatas. Umumnya berkisar antara 100-200 orang dan berasal dari keluarga dekat.
Menyikapi kondisi demikian, sambung Siti, banyak pelaku usaha jasa boga yang beralih jadi pemilik dan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Hingga kini tercatat lebih kurang 50 anggota PPJI yang punya dapur MBG,” tuturnya.
Dirinya mendorong agar melalui program MBG akan banyak muncul penyuplai bahan baku kuliner sehingga tidak terlalu sulit untuk memperolehnya dan dari sisi harga bisa semakin kompetitif. (RN)











































