Jakarta, (30/4/2026) – Upaya menggoreng kasus tabrakan maut di Bekasi Timur, nampak jelas. Salah satunya dengan mendiskreditkan Kereta Api Indonesia (KAI). Beberapa pihak mengarahkan seolah KAI yang bersalah. Padahal, awal mula terjadi kecelakaan disebabkan taksi Green SM (VinFast).
“Semua sudah terang benderang dan melihat bahwa tragedi maut di Bekasi Timur, diakibatkan kelalaian driver taksi hijau Green SM, yang dengan sengaja membiarkan mobilnya di lintasan kereta. Bahkan dalam tayangan video diketahui sementara dia malah merokok sambil main handphone,” kata Hari Supriyanto, Ketua Umum Gema Bersama Rakyat (GEBRAK), di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Bagi Gebrak, aneh bila ada yang menggiring seolah KAI yang bersalah. “Kalau saja driver berinisiatif memindahkan taksi yang katanya tertemper dari jalur kereta, tidak akan terjadi tragedi maut itu,” lanjutnya.
Dikatakannya, mempersalahkan KAI hanya upaya mencari kambing hitam. Bahkan, patut diduga hal tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang sebenarnya harus bertanggung jawab terhadap insiden tersebut.
“Yang perlu jadi highlight adalah sampai detik ini tidak ada permintaan maaf dari pihak Green SM kepada masyarakat. Jangankan diminta tanggung jawab, minta maaf saja tidak mau. Terkesan Green SM mau buang badan dan melimpahkan masalah tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya kritis.
Gebrak meminta pemerintah tegas dengan membekukan izin Green SM. “Kejadian di Bekasi Timur menjadi puncaknya. Sebelum itu, sudah banyak insiden yang mengakibatkan jatuhnya korban akibat kelalaian driver Green SM,” serunya.
KAI minta maaf
KAI sendiri dengan gentle sudah menyampaikan permohonan maaf. Dalam siaran pers yang disampaikan VP Corporate Communication KAI
Anne Purba, dikatakan, “Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh penumpang dan petugas mendapatkan penanganan secepat mungkin dan sebaik mungkin. Kami juga terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait di lapangan”.
Menurut Gebrak, manajemen Green SM terlalu angkuh. Mungkin karena merasa sudah berinvestasi di Indonesia. “Tidak bisa juga begitu. Lebih baik tidak usah berinvestasi kalau dampaknya justru memakan korban jiwa yang adalah rakyat Indonesia,” tukasnya.
Dia mendesak Green SM untuk bertanggung jawab terhadap insiden yang telah merenggut 15 nyawa dan 80-an orang luka-luka tersebut. “Jangan bersembunyi dibalik kedok investasi. Sebab, rakyat juga bisa marah bila ada investor yang tak berempati,” tukasnya. (RN)












































