Jakarta, innews.co.id – Saat ini muncul fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya), khususnya di mal-mal, di mana pengunjung banyak namun angka penjualan sepi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Diana Dewi mengatakan, “Fenomena Rojali dan Rohana menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi dan penurunan daya beli masyarakat yang signifikan. Selain itu, bisa juga fenomena tersebut adalah sinyal bahwa konsumen menjadi lebih cermat dan selektif dalam berbelanja”.
Apakah berdampak bagi pengusaha? “Tentu sangat terasa bagi para pengusaha, khususnya di sektor ritel dan pusat perbelanjaan. Paling terasa berdampak langsung pada penurunan omzet usaha meskipun kunjungan ke mal meningkat,” jelas Diana Dewi di Jakarta, Rabu (30/6/2025).
Selain itu, sambungnya, para pengusaha mengalami tekanan operasional. Di satu sisi pendapatan menurun, pengelola mal dan tenant tetap harus menanggung biaya operasional seperti listrik, pendingin ruangan, dan gaji karyawan, yang semakin menekan keuntungan.
“Penurunan pendapatan bagi tenant di mal dan pemilik usaha ritel tentu berdampak pada karyawan. Potensi penutupan gerai dan pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat membayangi yang tentu bermuara terjadi peningkatan pengangguran,” terangnya.
Penurunan daya beli masyarakat terasa tidak hanya di lingkup belanja di mal, tapi juga di keseharian. Hal tersebut mengakibatkan terjadi peningkatan jumlah barang.
Penurunan signifikan
Diakui Diana, tidak ada angka pasti berapa persen jumlah penurunan, namun cukup signifikan. Namun, penurunan daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, stagnasi pendapatan, penyempitan lapangan pekerjaan, dan ketidakpastian ekonomi global.
“Kini, masyarakat cenderung lebih memilih menyimpan uang sebagai bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi di masa depan, yang dikenal sebagai precautionary saving, sehingga mengurangi belanja untuk barang-barang non-esensial,” kata Founder Toko Daging Nusantara ini.
Dengan kondisi demikian, dirinya melihat bahwa para pengusaha harus melakukan penyesuaian strategi bisnis, dalam melakukan pendekatan pelanggan.
Selain itu, para pengusaha perlu mengembangkan kreativitas produk yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat dan penyesuaian harga.
Juga lebih menggencarkan promosi, misal dengan menggunakan platform digital dan media sosial secara efisien untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Hal penting lainnya, memahami perubahan konsumen. Sebab, harus diingat bahwa kunci keberhasilan bisnis di era digital bukan lagi hanya promosi agresif, melainkan kemampuan membangun hubungan yang kuat dengan konsumen.
“Mencermati kondisi demikian, pemerintah perlu memberikan stimulus ekonomi dan insentif yang lebih luas guna meningkatkan daya beli masyarakat, seperti diskon listrik, menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), atau program-program yang menggairahkan aktivitas konsumsi, khususnya di sektor UMKM dan bidang-bidang yang menciptakan lapangan kerja,” saran CEO PT Suri Nusantara Jaya ini.
Bisa juga membenahi kebijakan moneter, misal dengan menurunkan BI-Rate dengan tujuan untuk mendorong penyaluran kredit dengan biaya yang lebih rendah, sehingga masyarakat dan dunia usaha tergerak untuk memanfaatkan kredit atau pembiayaan, yang diharapkan meningkatkan konsumsi dan produksi.
Lainnya, pemerintah bisa mendorong sektor-sektor kunci seperti industri manufaktur, pertanian, dan perkebunan, serta mendorong hilirisasi produk-produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dan, pengembangan produk lokal berbiaya murah. (RN)












































