Jakarta, innews.co.id – Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer, di Lanud Suparlan Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat, bukan sekadar menggambarkan betapa kompak dan disiplinnya pasukan militer, tapi juga sebuah penegasan kesiapan Indonesia dalam menghadapi tantangan dan ancaman.
“Melihat upacara dan defile pasukan yang begitu luar biasa, kita patut bangga dengan TNI yang begitu kuat dan luar biasa,” kata pengamat militer Dr. John Palinggi, MM., MBA., di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Ada tujuan mulia dan penegasan yang ingin disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto baik ke dalam maupun keluar bahwa Indonesia bangsa yang kuat dan tidak bisa diinjak-injak.
“Kita bisa melihat bagaimana Presiden Prabowo menata TNI sebaik mungkin untuk mengamankan negara kita dari berbagai potensi ancaman yang muncul, baik dalam maupun luar negeri,” ujar mantan Pengajar di Lemhanas RI ini.
Itu nampak dari pemekaran militer, di mana dibentuk 6 Komando Daerah Militer (Kodam) TNI baru yakni, Kodam XIX/Tuanku Tambusai (membawahi Riau dan Kepulauan Riau); Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol (Padang dan Jambi); Kodam XXI/Radin Inten (Lampung dan Bengkulu); Kodam XXII/Tambun Bungai (Kalteng dan Kalsel); Kodam XXIII/Palaka Wira (Sulteng dan Sulbar); dan Kodam XXIV/Mandala Trikora (Merauke dan Papua Selatan).

Demikian juga penambahan grup Kopassus yaitu, Grup 1 bermarkas di Banten, Grup 2 di Surakarta (Jawa Tengah), Grup 3 di Dumai (Riau), Grup 4 di Penajam (Ibu Kota Nusantara), Grup 5 di Kendari (Sulawesi Tenggara), dan Grup 6 di Timika (Papua Tengah).
Pada TNI AL, juga diresmikan keberadaan 14 Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral), sekaligus menggantikan nomenklatur Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) di sejumlah wilayah strategis, yakni: Kodaeral I (Belawan); Kodaeral II (Padang); Kodaeral III (Jakarta); Kodaeral IV (Batam); Kodaeral V (Surabaya); Kodaeral VI (Makassar); Kodaeral VII (Kupang); Kodaeral VIII (Manado); Kodaeral IX (Ambon); Kodaeral X (Jayapura); Kodaeral XI (Merauke); Kodaeral XII (Pontianak); Kodaeral XIII (Tarakan); dan Kodaeral XIV (Sorong).
Perkiraan strategis
“Pemekaran TNI didasarkan pada evaluasi dan perkiraan strategis dari masukan-masukan yang diberikan pihak intelijen yang kemudian dibahas di internal dari ketiga matra dengan melihat potensi tantangan dan ancaman yang akan terjadi,” imbuh John yang lebih dari empat dasawarsa karib dengan dunia militer ini.
Harus diakui potensi peperangan saat ini sangatlah besar, termasuk di kawasan Asia Pasifik. Mulai dari perang psikologi, dagang, mata uang, senjata, senjata biologi. Untuk itu, sangatlah penting menjaga keutuhan NKRI sampai ke pelosok-pelosoknya.
“Karena itu pemekaran militer merupakan bagian dari pernyataan negara kita bahwa kami siap untuk menghadapi segala bentuk ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri. Termasuk melindungi rakyat. Dengan kata lain, TNI bersama rakyat akan siap menghadapi tantangan dan melawan terhadap hal-hal yang memaksa,” tegasnya.
Panglima pasukan khusus
John juga menyoroti perubahan sebutan bagi pemimpin di tiga pasukan khusus yakni, Kopassus, Marinir, dan Kopasgat. Kalau di Kopassus disebut Danjen, kini disematkan Panglima Kopassus. Demikian juga di Marinir menjadi Panglima Marinir dan Panglima Kopasgat. Pangkatnya dari bintang dua menjadi tiga.
“Kenaikan pangkat dan perubahan nama jabatan ini memungkinkan ketiganya bisa bekerja sama dan bergerak lebih cepat dalam merespon segala bentuk ancaman yang datang,” serunya.

Tak hanya itu, hal menarik lainnya pada gelar pasukan di Batujajar adalah penghargaan kepada 12 tokoh militer yang dinilai berjasa besar bagi pertahanan dan keamanan negara. Ke-12 tokoh tersebut adalah Jenderal TNI (Hor) Yunus Yosfiah; Jenderal TNI (Hor) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin; Jenderal TNI (Hor) Muhammad Herindra; Jenderal (Hor) Agus Sutomo; Alm. Jenderal TNI Purn. (Hor) Ali Sadikin; Letjen TNI (Hor) Valentinus Soehartono Soeratman; Marsdya TNI (Hor) Bambang Eko Suhariyanto; Letjen TNI (Hor) Chairawan K Nusyirwan; Letjen TNI (Hor) Musa Bangun; Letjen TNI (Hor) Glenny Kairupan, M.Sc.; Letjen TNI (Hor) Dr. Tony SB Hoesodo; dan Mayjen TNI (Hor) Taufik Hidayat.
“Pemberian penghargaan ini sangat menyentuh hati. Karena Bapak Presiden bisa merasakan bagaimana orang-orang yang berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk NKRI. Ternyata mereka begitu setia sampai akhir. Itu juga artinya, Bapak Presiden sangat menghargai jasa-jasa” mereka. Tidak ada generasi penerus tanpa generasi sebelumnya,” tukasnya.
Pada kesempatan itu juga dilantik Jenderal TNI Tandyo Budi Revita sebagai Wakil Panglima TNI. “Beliau sosok yang cool dan berintegritas. Kalau dilihat dari track records-nya, sampai menjabat Wakil KSAD, beliau tidak pernah cidera,” ucapnya.
Selain itu, penunjukan Wakil Panglima TNI tentu disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.
John Palinggi memberi ucapan selamat. “Kiranya Pak Tandyo bisa menjalankan tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Tokoh nasional yang dikenal low profile ini meminta masyarakat untuk tidak selalu menghina atau menjelek-jelekkan TNI. “Banyak pengamat militer tapi tidak paham tentang ‘dalam perut’ TNI. Itu hanya ibarat jual jamu saja,” kritik John.
Secara khusus, dirinya mengapresiasi Presiden Prabowo Subianto yang menggelar acara akbar di Batujajar tersebut. “Terima kasih Pak Presiden. Melalui acara tersebut rakyat diyakinkan bahwa kita memiliki TNI yang kuat, tangguh, dan solid. Ini menjadi modal berharga untuk membangun Indonesia lebih maju lagi,” pungkas John Palinggi. (RN)












































